Source: Livescience.com
Crimson Jellyfish
Credit: Edith A. Widder |
Operation Deep Scope 2005 Exploration | NOAA-OE | NOAAA deep-sea jellyfish, the blood-red Atolla wyvillei emits a spooky blue light when it is threatened by a predator. Its bioluminescent light flashes in a hypnotic, rotating pinwheel pattern around its body.
Eerie Anglerfish
Credit: Jared Benney | flickr.com
The terrifyingly toothy anglerfish became a common occurrence in little kids' nightmares ever since it chased Nemo and Dory in Pixar's "Finding Nemo." To attract prey, the scary-looking fish uses a bioluminescent "fishing pole" that hangs just above and in front of its toothy face. The lure is actually a piece of dorsal spine packed with millions of glow-in-the-dark bacteria.
Saber-Toothed Viperfish
Credit:David Csepp | NMFS/AKFSC/ABL | NOAA
The fittingly named viperfish has long, needle-like teeth and hinged lower jaws. This deepwater monster prefers warm tropical waters, where it sinks its fang-like teeth into prey, immobilizing them.
Monstrous Megamouth Shark
Credit: NOAA
The megamouth shark, shown here, is an extremely rare species of deepwater shark. The megamouth swims with its mouth wide open, catching and sucking in fish and krill as it glides along. Its massive mouth extends past its eyes and is equipped with about 50 rows of small, sharp teeth on each jaw.
Halloween Holothurians
Credit:Nikita Tiunov | shutterstock
Not all species of sea cucumbers (Holothurians) look like, well, cucumbers. Some species, which have swaying branch-like tentacles on one end of their long bodies, more closely resemble a chubby stalk of broccoli. Above is a colorful shot of a purple and orange-colored sea cucumber with its tentacles spread out.
The Blackdragon Fish
Credit:Dr. Julian Finn, Museum Victoria
Another bottom-dwelling bioluminescent creature, the blackdragon fish has light-emitting organs arranged all along its belly to fool predators by changing its silhouette. The spooky fish also has bioluminescencant "flashlights" next to each eye that it can flash on while on the look-out for prey or to signal potential mates. As you can see in the above photo, the blackdragon fish is so toothy that even its tongue has razor-sharp teeth.
Armored Searobin
Credit:bio.umass.edu
Found in deep tropical waters around the world, the coral-red armored searobins have bodies encased in heavy scales. They also possess prominent spines, with barbels on their chins for luring in unsuspecting prey.
Vampire Squid
Credit:2004 MBARI
Despite its terrifying name, the vampire squid is relatively tiny, reaching a maximum of 6 inches (15.4 cm) in length. It gets its name from its red coloring, glowing, bioluminescent eyes and the cloak-like webbing that connects its eight arms. Although it has similarities with both squid and octopuses, it is actually not a squid but in its own separate family, of which it is the last remaining member; as such, the animal is referred to as a "living fossil." Its scientific name, Vampyroteuthis infernalis, literally translates to "vampire squid from hell." Yikes.
Frightening Fangtooth
Credit: Joel E. Van Noord
Named for its long, vampire-like teeth the fangtooth fish inhabits the extreme deep waters of the ocean. In proportion to its body size, it has some of the largest teeth of any fish. Although it may look scary, the endangered fangtooth only grows to about 6 inches (16 cm) in length.
Coffinfish
Credit:New Zealand-American Submarine
Ring of Fire 2005 Exploration | NOAA Vents Program The cryptically named coffinfish more resembles a colorful autumn gourd than a casket. The scowling fish can often be found resting on the bottom of the ocean, using its tiny fins like legs to prop itself up.
Skeletal Jellyfish
Credit: NOAA Ocean Explorer
The deep-sea Aequorea, or crystal jellyfish, has a translucent body and long tentacles that give it a ghostly appearance. A jellyfish's tentacles, which trail after its body, can be less than an inch to120 feet (30.48 meters) long.v
Life In the Shadowy Depths
Credit: U.S. Antarctic Program Photo Library
From frightful fangtooth fish and vampire squid to coffinfish and spiky, sinister sea urchins, plenty of strange and scary creatures lurk in the dark, cold depths of the ocean ... Be brave and dive on in!
Scary Stargazer
Credit: Levent Konuk | shutterstock
This frightening fish is charmingly named stargazer, because its eyes are situated on top of its head. The fish burrows its flat body underneath the sand, hiding itself so that it is still able to peek out. It then hunkers down waiting to strike if prey swims by. Although many stargazers dwell in shallow water, Northern stargazers live in the deep waters off the Atlantic Coast.
Jumat, 28 Oktober 2011
Makhluk Aneh Ditemukan di Palung Mariana
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 24 Oktober 2011 | 09:10 WIB
From: Kompas.com
KOMPAS.com — Ilmuwan dari Scripps Institute of Oceanography di University California San Diego menemukan makhluk hidup aneh di Palung Mariana, bagian lautan paling dalam di Bumi. Makhluk hidup aneh tersebut berupa amoeba raksasa, secara ilmiah disebut xenophyophores, ditemukan di kedalaman sekitar 10,5 km di bawah permukaan laut.
"Amoeba raksasa yang mengagumkan itu bisa beradaptasi dengan sangat baik di lingkungan ekstrem, tetapi pada saat yang sama sangat rentan dan tidak banyak dipelajari," kata Lisa Levin, biolog Laut Dalam yang juga Direktur Scripps Center for Marine Biodiversity and Conservation.
Levin menjelaskan, xenophyophores adalah salah satu individu satu sel terbesar, kadang bisa tumbuh hingga 10 cm. Studi terkini mengindikasikan, dengan menjebak partikel dalam air, xenophyophores bisa mengakumulasikan timbal, uranium, dan merkuri sehingga dianggap resisten terhadap logam berat.
Diketahui, xenophyophores sangat cocok hidup di tempat yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi seperti di kedalaman lautan. "Identifikasi sel raksasa di lingkungan laut terdalam ini membuka habitat baru bagi studi biodiversitas dan adaptasi lingkungan ekstrem," kata Levin seperti dikutip Foxnews, Jumat (21/10/2011).
Untuk bisa menemukan makhluk hidup ini, Levin bekerja sama dengan Eric Berkenpas dan Graham Wilhelm, insinyur pencitraan daerah sulit terjangkau dari National Geographic Society. Mereka menggunakan peralatan yang disebut "dropcams", terdiri dari kamera HD dan lampu yang berada di dalam bahan gelas. Peralatan ini mampu bertahan di lingkungan laut yang bertekanan tinggi.
From: Kompas.com
KOMPAS.com — Ilmuwan dari Scripps Institute of Oceanography di University California San Diego menemukan makhluk hidup aneh di Palung Mariana, bagian lautan paling dalam di Bumi. Makhluk hidup aneh tersebut berupa amoeba raksasa, secara ilmiah disebut xenophyophores, ditemukan di kedalaman sekitar 10,5 km di bawah permukaan laut.
"Amoeba raksasa yang mengagumkan itu bisa beradaptasi dengan sangat baik di lingkungan ekstrem, tetapi pada saat yang sama sangat rentan dan tidak banyak dipelajari," kata Lisa Levin, biolog Laut Dalam yang juga Direktur Scripps Center for Marine Biodiversity and Conservation.
Levin menjelaskan, xenophyophores adalah salah satu individu satu sel terbesar, kadang bisa tumbuh hingga 10 cm. Studi terkini mengindikasikan, dengan menjebak partikel dalam air, xenophyophores bisa mengakumulasikan timbal, uranium, dan merkuri sehingga dianggap resisten terhadap logam berat.
Diketahui, xenophyophores sangat cocok hidup di tempat yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi seperti di kedalaman lautan. "Identifikasi sel raksasa di lingkungan laut terdalam ini membuka habitat baru bagi studi biodiversitas dan adaptasi lingkungan ekstrem," kata Levin seperti dikutip Foxnews, Jumat (21/10/2011).
Untuk bisa menemukan makhluk hidup ini, Levin bekerja sama dengan Eric Berkenpas dan Graham Wilhelm, insinyur pencitraan daerah sulit terjangkau dari National Geographic Society. Mereka menggunakan peralatan yang disebut "dropcams", terdiri dari kamera HD dan lampu yang berada di dalam bahan gelas. Peralatan ini mampu bertahan di lingkungan laut yang bertekanan tinggi.
Pohon Evolusi Mollusca Berhasil Dibuat
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Jumat, 28 Oktober 2011 | 21:31 WI
From: Kompas.com
KOMPAS.com - Casey Dunn, pakar evolusi dari Brown University, AS, berhasil mengembangkan pohon evolusi mollusca atau hewan bertubuh lunak. Pohon evolusi adalah suatu bagan yang menunjukkan relasi antara satu spesies dengan spesies lainnya secara evolusioner.
Pohon evolusi mollusca yang berhasil dikembangkan itu menjadi gambaran kekerabatan mollusca pertama yang paling lengkap dan dipublikasikan di Jurnal Nature. Untuk mengembangkan pohon evolusi itu, Cunn mengambil sampel beragam jenis mollusca. Selanjutnya, tim menganalisa susunan gen pada tiap spesies dan membandingkannya satu sama lain.
Hasil studi ini telah menempatkan golongan mollusca laut dalam yang disebut Monoplacophora. Jenis ini sebelumnya diduga punah hingga ditemukan pada tahun 1952 di pantai Meksiko. Studi jenis Monoplacophora dilakukan dengan spesimen yang ditangkap selama ekspedisi tahun 2007 oleh tim yang dipimpin oleh Nerida Wilson, juga tergabung dalam penelitian ini.
Setelah ekstraksi DNA, tim mendapatkan hasil bahwa Monoplacophora memiliki kekerabatan dengan grup mollusca yang disebut Cephalopoda, meliputi gurita dan cumi-cumi. "Cephalopoda sangat berbeda dengan mollusca lain, sangat sulit dimengerti bagaimana mereka bisa memiliki kekerabatan. Mereka berbeda dengan yang lainnya," ungkap Dunn.
Cephalopoda secara umum adalah jenis mollusca yang memiliki kaki di kepala dan tidak memiliki cangkang. Beberapa cephalopoda memiliki kantung tinta dan tentakel.
"Sekarang kita mengetahui bahwa ada dua grup paling berbeda dalam mollusca ternyata bersaudara," ungkap Dunn seperti dikutip situs ScienceDaily, Rabu (26/10/2011).
Berdasarkan hasil penelitian, ilmuwan juga mengungkapkan bahwa spesies yang tergabung dalam grup Cephalopoda atau Monoplacophora mungkin adalah nenek moyang mollusca, meski belum diketahui jenisnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak. Selain Brown University, pihak lain yang terlibat adalah Harvard University dan Australia Museum.
From: Kompas.com
KOMPAS.com - Casey Dunn, pakar evolusi dari Brown University, AS, berhasil mengembangkan pohon evolusi mollusca atau hewan bertubuh lunak. Pohon evolusi adalah suatu bagan yang menunjukkan relasi antara satu spesies dengan spesies lainnya secara evolusioner.
Pohon evolusi mollusca yang berhasil dikembangkan itu menjadi gambaran kekerabatan mollusca pertama yang paling lengkap dan dipublikasikan di Jurnal Nature. Untuk mengembangkan pohon evolusi itu, Cunn mengambil sampel beragam jenis mollusca. Selanjutnya, tim menganalisa susunan gen pada tiap spesies dan membandingkannya satu sama lain.
Hasil studi ini telah menempatkan golongan mollusca laut dalam yang disebut Monoplacophora. Jenis ini sebelumnya diduga punah hingga ditemukan pada tahun 1952 di pantai Meksiko. Studi jenis Monoplacophora dilakukan dengan spesimen yang ditangkap selama ekspedisi tahun 2007 oleh tim yang dipimpin oleh Nerida Wilson, juga tergabung dalam penelitian ini.
Setelah ekstraksi DNA, tim mendapatkan hasil bahwa Monoplacophora memiliki kekerabatan dengan grup mollusca yang disebut Cephalopoda, meliputi gurita dan cumi-cumi. "Cephalopoda sangat berbeda dengan mollusca lain, sangat sulit dimengerti bagaimana mereka bisa memiliki kekerabatan. Mereka berbeda dengan yang lainnya," ungkap Dunn.
Cephalopoda secara umum adalah jenis mollusca yang memiliki kaki di kepala dan tidak memiliki cangkang. Beberapa cephalopoda memiliki kantung tinta dan tentakel.
"Sekarang kita mengetahui bahwa ada dua grup paling berbeda dalam mollusca ternyata bersaudara," ungkap Dunn seperti dikutip situs ScienceDaily, Rabu (26/10/2011).
Berdasarkan hasil penelitian, ilmuwan juga mengungkapkan bahwa spesies yang tergabung dalam grup Cephalopoda atau Monoplacophora mungkin adalah nenek moyang mollusca, meski belum diketahui jenisnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak. Selain Brown University, pihak lain yang terlibat adalah Harvard University dan Australia Museum.
Kamis, 06 Oktober 2011
Dari Kiat Hidup Hijau hingga Memancing Oksigen
KOMPAS.com — Kompetisi E-Idea yang diselenggarakan British Council mempertemukan 7 negara untuk mencari permasalahan seputar lingkungan di negara masing-masing dan berusaha mencari solusinya. Setelah melalui proses penjurian di masing-masing negara, ketujuh negara tersebut memiliki pemenang masing-masing yang kemudian dipertemukan di Jakarta. Ketujuh negara adalah Indonesia, Thailand, Vietnam, Australia, Jepang, China, dan Korea.
Pameran E-idea yang berjumlah 40 karya dipamerkan di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (5/10/2011) ini. Di antara beragam karya inovatif dari Thailand ada enam karya, dari kiat hidup hijau sampai cara memancing oksigen. Berikut adalah inovasi yang dimiliki para pemenang dari Thailand.
Pertama adalah Chontira Thipaksorn yang mengangkat cara mudah hidup hijau. Peraih Msc di bidang Postharvest Technology dari Chiangmai University ini bekerja di Northern Development Foundation. Dengan latar belakang kota Chiang Mai yang memiliki tingkat polusi tertinggi di Utara Thailand, Chontira membuat mesin serupa alat pengurai sampah makanan, sehingga warga tak perlu tergantung dengan teknologi. Alat ini mengolah sampah organik menjadi pupuk organik untuk tanah dan tanaman. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan kebersihan di tingkat rumah tangga sekaligus mempromosikan konsep pengelolaan sampah.
Kedua adalah Kanadej Thamanoonragsa yang membuat Pertanian Kota Urbie. Kanadej bekerja di Alpha Capital, yang bergerak di bidang energy terbarukan. Ia mengidamkan Bangkok menjadi sebuah kota yang terkenal dengan pertanian di tengah kota. Ia membangun komunitas di tengah kota untuk menambah area-area hijau di tembok, atap, dan taman. Nantinya komunitas yang terlibat juga bosa menikmati hasil pertanian segar dan menambah pendapatan mereka. Para petani kota bisa berkomunikasi melalui dunia maya dan juga bertatap muka untuk menjual produk pertanian, sekaligus memperkaya pengetahuan soal kemampuan produksi, penjualan, dan pendapatan.
Ketiga adalah Jantima Pipitsoontom yang melakukan pemilahan sampah dan daur ulang biowaste. Lulusan biokimia dari Chulangkom University ini mengelola sampah dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah, sekolah, komunitas masyarakat, dan bisnis pariwisata. Pemilahan sampah dipromosikan lewat bak-bak sampah, dimana turis juga diajak berpartisipasi, dengan ikut memilah sampah. Setelah itu, akan dibangun Learning Center of Biowaste Recycling dimana sampah yang telah dipilah akan dioleh dengan teknik biowaste.
Keempat adalah Saengabha yang membuat Pemanas Kreatif untuk Papan Partikel. Sarjana Sosial dari Mahidol University ini bergabung dengan perusahaan Kokoboard yang membuat particle board dari sampah pertanian. Perusahaan ini sudah membuat 5 macam particle board dari aneka sampah atau produk turunan pertanian, seperti gabah, biji bunga matahari, sekam, dan sabut kelapa. Dengan teknologi yang tepat, lini produksi particle board bisa dipastikan memakai energy yang bersih, sehingga produk yang dihasilkan betul-betul ramah lingkungan. Caranya adalah dengan membuat biogas dari strawboard chips sebagai bahan bakar bagi proses produksi papan partikel. Jika penggunaan mesin bahan bakar dikurangi, maka bisa memperkecil nilai investasi serta mengurangi jejak karbon. Penggunaan papan partikel secara umum diharapkan bisa menahan laju deforestasi serta memperpanjang umur hutan bagi generasi selanjutnya.
Kelima adalah Khwankhao Sinhanseni, pengusaha sosial yang membuat Pupuk Organik Keaw Suay Homm. Khwankhao adalah anggota proyek lingkungan di kota Chiang Mai. Proyek yang disebut Keaw Suay Homm ini mempromosikan konservasi alam lewat perusahaan social “Pupuk Keaw Suay Homm”. Polusi sampah organic menjadi salah satu persoalan lingkungan utama di kota Chiang Mai. Sebanyak 40 persen dari total sampah di Chiang Mai adalah sampah organic. Lewat proyek ini, sampah organic akan diubah menjadi pupuk organic. Sampah diambil petugas kota dari rumah-rumah warga, sementara perusahaan swasta dilibatkan untuk produksi pupuk. Sampah diolah menjadfi pupuk organic dengan menggunakan sistem penyaringan udara. Pupuk kemudian dijual dan hasilnya bisa digunakan untuk mendirikan pusat pendidikan di tengah kota.
Keenam adalah Sudarat Chomroong yang memancing oksigen dengan spesies antagonis trichoderma pada hutan bakau. Sudarat saat ini masih menjadi mahasiswa biologi di Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Untuk mengurangi pemanasan global, langkah harus difokuskan pada penyebab utamanya, yakni banyaknya karbondioksida di atmosfer. Proyek yang dikembangkan Sudarat akan memancing hadirnya oksigen dengan menggunakan spesies antagonis spawn trichoderma di hutan bakau. Jamur ini bisa meningkatkan daya tahan dan kekebalan hutan bakau. Jamur akan diolah ke dalam bentuk pupuk tablet yang digunakan di hutan-hutan bakau. Dengan pupuk ini, pohon bakau bisa berkembang pesat dengan gaya hidup yang lebih panjang. Bakau diyakini dapat berperan besar dalam mengurangi kadar karbon dioksida di udara. Proyek percobaan akan dilakukan di Provinsi Samutsakorn.
Pameran E-idea yang berjumlah 40 karya dipamerkan di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (5/10/2011) ini. Di antara beragam karya inovatif dari Thailand ada enam karya, dari kiat hidup hijau sampai cara memancing oksigen. Berikut adalah inovasi yang dimiliki para pemenang dari Thailand.
Pertama adalah Chontira Thipaksorn yang mengangkat cara mudah hidup hijau. Peraih Msc di bidang Postharvest Technology dari Chiangmai University ini bekerja di Northern Development Foundation. Dengan latar belakang kota Chiang Mai yang memiliki tingkat polusi tertinggi di Utara Thailand, Chontira membuat mesin serupa alat pengurai sampah makanan, sehingga warga tak perlu tergantung dengan teknologi. Alat ini mengolah sampah organik menjadi pupuk organik untuk tanah dan tanaman. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan kebersihan di tingkat rumah tangga sekaligus mempromosikan konsep pengelolaan sampah.
Kedua adalah Kanadej Thamanoonragsa yang membuat Pertanian Kota Urbie. Kanadej bekerja di Alpha Capital, yang bergerak di bidang energy terbarukan. Ia mengidamkan Bangkok menjadi sebuah kota yang terkenal dengan pertanian di tengah kota. Ia membangun komunitas di tengah kota untuk menambah area-area hijau di tembok, atap, dan taman. Nantinya komunitas yang terlibat juga bosa menikmati hasil pertanian segar dan menambah pendapatan mereka. Para petani kota bisa berkomunikasi melalui dunia maya dan juga bertatap muka untuk menjual produk pertanian, sekaligus memperkaya pengetahuan soal kemampuan produksi, penjualan, dan pendapatan.
Ketiga adalah Jantima Pipitsoontom yang melakukan pemilahan sampah dan daur ulang biowaste. Lulusan biokimia dari Chulangkom University ini mengelola sampah dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah, sekolah, komunitas masyarakat, dan bisnis pariwisata. Pemilahan sampah dipromosikan lewat bak-bak sampah, dimana turis juga diajak berpartisipasi, dengan ikut memilah sampah. Setelah itu, akan dibangun Learning Center of Biowaste Recycling dimana sampah yang telah dipilah akan dioleh dengan teknik biowaste.
Keempat adalah Saengabha yang membuat Pemanas Kreatif untuk Papan Partikel. Sarjana Sosial dari Mahidol University ini bergabung dengan perusahaan Kokoboard yang membuat particle board dari sampah pertanian. Perusahaan ini sudah membuat 5 macam particle board dari aneka sampah atau produk turunan pertanian, seperti gabah, biji bunga matahari, sekam, dan sabut kelapa. Dengan teknologi yang tepat, lini produksi particle board bisa dipastikan memakai energy yang bersih, sehingga produk yang dihasilkan betul-betul ramah lingkungan. Caranya adalah dengan membuat biogas dari strawboard chips sebagai bahan bakar bagi proses produksi papan partikel. Jika penggunaan mesin bahan bakar dikurangi, maka bisa memperkecil nilai investasi serta mengurangi jejak karbon. Penggunaan papan partikel secara umum diharapkan bisa menahan laju deforestasi serta memperpanjang umur hutan bagi generasi selanjutnya.
Kelima adalah Khwankhao Sinhanseni, pengusaha sosial yang membuat Pupuk Organik Keaw Suay Homm. Khwankhao adalah anggota proyek lingkungan di kota Chiang Mai. Proyek yang disebut Keaw Suay Homm ini mempromosikan konservasi alam lewat perusahaan social “Pupuk Keaw Suay Homm”. Polusi sampah organic menjadi salah satu persoalan lingkungan utama di kota Chiang Mai. Sebanyak 40 persen dari total sampah di Chiang Mai adalah sampah organic. Lewat proyek ini, sampah organic akan diubah menjadi pupuk organic. Sampah diambil petugas kota dari rumah-rumah warga, sementara perusahaan swasta dilibatkan untuk produksi pupuk. Sampah diolah menjadfi pupuk organic dengan menggunakan sistem penyaringan udara. Pupuk kemudian dijual dan hasilnya bisa digunakan untuk mendirikan pusat pendidikan di tengah kota.
Keenam adalah Sudarat Chomroong yang memancing oksigen dengan spesies antagonis trichoderma pada hutan bakau. Sudarat saat ini masih menjadi mahasiswa biologi di Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Untuk mengurangi pemanasan global, langkah harus difokuskan pada penyebab utamanya, yakni banyaknya karbondioksida di atmosfer. Proyek yang dikembangkan Sudarat akan memancing hadirnya oksigen dengan menggunakan spesies antagonis spawn trichoderma di hutan bakau. Jamur ini bisa meningkatkan daya tahan dan kekebalan hutan bakau. Jamur akan diolah ke dalam bentuk pupuk tablet yang digunakan di hutan-hutan bakau. Dengan pupuk ini, pohon bakau bisa berkembang pesat dengan gaya hidup yang lebih panjang. Bakau diyakini dapat berperan besar dalam mengurangi kadar karbon dioksida di udara. Proyek percobaan akan dilakukan di Provinsi Samutsakorn.
Jumat, 23 September 2011
Sulitnya Menjadi Taksonom di Indonesia
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Selasa, 20 September 2011 | 21:24 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memerlukan tambahan koleksi rujukan biodiversitas (reference collection). Saat ini, koleksi rujukan paling lengkap yang dimiliki Indonesia baru Museum Zooligicum Bogoriense. Koleksinya pun juga masih terbatas.
"Reference collection ini memang mahal, tapi kita harus punya. Idealnya memang tiap propinsi itu punya. Tapi paling tidak kita punya 5, yang mewakili tiap wilayah, misalnya Sumatera, Jawa dan sebagainya," kata Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala P2 Biologi LIPI.
Salah satu manfaat yang bisa diperoleh dengan memiliki koleksi rujukan adalah mengetahui jumlah spesies di suatu wilayah. Dengan punya koleksi rujukan, pemantauan terhadap hilangnya suatu spesies dari lingkungan tertentu akan lebih mudah dilakukan.
"Contohnya kita bisa tahu bahwa 90 persen biodiversitas di Ciliwung itu hilang kan karena kita membandingkan dengan reference collection. Kita lihat dari museum di Bogor dan Leiden untuk mengetahui itu," jelas Nuramaliati yang akrab disapa Lili.
Manfaat lainnya, menurut Lili, adalah kemudahan bagi para taksonom untuk mengakses bahan untuk penelitian. Selama ini, untuk mengakses holotype suatu spesies, kadang taksonom harus pergi ke reference collection di luar negeri, menghabiskan biaya yang tak sedikit. Masa untuk melacak keanekaragaman hayati atau biodiversity di Indonesia harus ke luar negeri?
Lili mengungkapkan, reference collection tambahan nantinya bisa dikelola siapapun, misalnya kalangan universitas. Hal utama adalah memastikan bahwa setiap pengelola memiliki komitmen untuk mengelolanya secara berkelanjutan.
"Yang terpenting adalah komitmen. Jangan sampai nanti pemimpinnya ganti lalu bilang, buat apa ini, hanya menghabiskan biaya," kata Lili saat ditemui di acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I di Jakarta hari ini, Selasa (20/9/2011).
Tentang koleksi spesimen sendiri, saat ini masih harus ditambah. Jumlah koleksi spesies laut, termasuk yang ada di Museum Zoologi Bogor masih sangat minim. Eksplorasi biodiversitas laut masih harus dilakukan untuk menginventarisasi spesies-spesies yang ada.
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memerlukan tambahan koleksi rujukan biodiversitas (reference collection). Saat ini, koleksi rujukan paling lengkap yang dimiliki Indonesia baru Museum Zooligicum Bogoriense. Koleksinya pun juga masih terbatas.
"Reference collection ini memang mahal, tapi kita harus punya. Idealnya memang tiap propinsi itu punya. Tapi paling tidak kita punya 5, yang mewakili tiap wilayah, misalnya Sumatera, Jawa dan sebagainya," kata Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala P2 Biologi LIPI.
Salah satu manfaat yang bisa diperoleh dengan memiliki koleksi rujukan adalah mengetahui jumlah spesies di suatu wilayah. Dengan punya koleksi rujukan, pemantauan terhadap hilangnya suatu spesies dari lingkungan tertentu akan lebih mudah dilakukan.
"Contohnya kita bisa tahu bahwa 90 persen biodiversitas di Ciliwung itu hilang kan karena kita membandingkan dengan reference collection. Kita lihat dari museum di Bogor dan Leiden untuk mengetahui itu," jelas Nuramaliati yang akrab disapa Lili.
Manfaat lainnya, menurut Lili, adalah kemudahan bagi para taksonom untuk mengakses bahan untuk penelitian. Selama ini, untuk mengakses holotype suatu spesies, kadang taksonom harus pergi ke reference collection di luar negeri, menghabiskan biaya yang tak sedikit. Masa untuk melacak keanekaragaman hayati atau biodiversity di Indonesia harus ke luar negeri?
Lili mengungkapkan, reference collection tambahan nantinya bisa dikelola siapapun, misalnya kalangan universitas. Hal utama adalah memastikan bahwa setiap pengelola memiliki komitmen untuk mengelolanya secara berkelanjutan.
"Yang terpenting adalah komitmen. Jangan sampai nanti pemimpinnya ganti lalu bilang, buat apa ini, hanya menghabiskan biaya," kata Lili saat ditemui di acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I di Jakarta hari ini, Selasa (20/9/2011).
Tentang koleksi spesimen sendiri, saat ini masih harus ditambah. Jumlah koleksi spesies laut, termasuk yang ada di Museum Zoologi Bogor masih sangat minim. Eksplorasi biodiversitas laut masih harus dilakukan untuk menginventarisasi spesies-spesies yang ada.
Rabu, 21 September 2011
Indonesia Butuh Minimal 45 Taksonom Kelautan
KOMPAS.com - Indonesia merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekaragaman hayati dunia, salah satunya ditandai dengan besarnya jenis spesies di laut. Namun berapa spesies yang sebenarnya ada di laut Indonesia dan apa saja? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan inventarisasi keanekaragaman hayati laut itu sendiri.
Prof Dr Suharsono, Ketua Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia, yang juga peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, untuk mampu menginventarisasi keragaman hayati itu, kebutuhan utamanya adalah taksonom kelautan. Sayangnya jumlha taknsonom kelautan di Indonesia masih sangat minim.
"Dibutuhkan minimal 45 taksonom kelautan. Tiap kelas dalam satu taksa harus ada yang menangani. Idealnya dalam satu ordo ada satu taksonom," kata Suharsono dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang berlangsung hari ini, Selasa (20/9/2011) di Jakarta.
Sejumlah taksonom tersebut diharapkan mampu meneliti beragam taksa makhluk hidup laut, seperti bakteri, firaminifera, porifera, crustacea, mollusca, echinodermata, coelenterata dan beragam jenis tumbuhan laut serta mangrove. Menurut Suharsono, masih banyak biota laut yang kini masih belum diteliti.
"Bakteri laut ini sudah banyak yang meneliti tetapi secara taksonomi belum banyak. Algae juga masih sedikit. Jenis Bryozoa dan Cetacea juga masih belum banyak," katanya.
Suharsono menjelaskan, beberapa strategi tengah dirancang untuk memenuhi kebutuhan taksonom. Salah satunya lewat edukasi. Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Suharsono, tahun ini mulai menyelenggarakan jurusan taksonomi setelah mendapat lampu hijau dari DIKTI.
Strategi lain yang ditempuh adalah advokasi pada pemerintah untuk membangun reference collection kelautan, membentuk jaringan taksonomi dengan memanfaatkan universitas yang ada, kerjasama dengan lembaga internasional serta melakukan ekepedisi.
"Ke depan taksonom Indonesia harus jadi author dalam penamaan spesies. Saat ini banyak yang terlibat penelitian taksonomi tetapi belum menjadi author," kata Suharsono. Menjadi author berarti nama taksonom tercantum dalam nama spesies, seperti Linnaeus yang diterakan pada banyak spesies.
Saat ini, jumlah peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian taksonomi adalah 20-30an. Namun, hanya 3 peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom. Peluang menjadi taksonom di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati ini masih sangat besar.
Minggu, 18 September 2011
Coral Reef
Source: Terangi (The Indonesia Coral Reef Foundation)
What is a coral reef?
Coral reefs are massive limestone structure that provides shelter for marine life. They are the gardens and forests of the sea. As one of the largest and most complex ecosystem on the planet, coral reef are home to approximately 25 % of the ocean's species. To imagine a coral reef, think of it as a bustling community, a city of the sea, with the building made of corals, and thousand of inhabitants coming and going, carrying out their business.
What is coral?
Corals look like a plant or a rock. But it is actually composed of tiny, fragile animals called polyp. There are two types of coral: hard corals and soft corals. Hard corals or reef-building corals are hard as rock. Their skeletons are made out of calcium carbonate. Hard corals need zooxanthellae for survival and only live in clear shallow water. Soft corals look like plants or trees. They are non-reef building corals and don't posses zooxanthellae. Soft corals can be found both in tropical seas and in cool, dark water.
What is a polyp?
A polyp is a simple creature. They do not have back bone or invertebrates, and are cousins of jellyfish. A polyp has a sack-like structure. At its free end is a mouth surrounded by numerous stinging tentacles called cnidae. The polyp extracts calcium carbonate from seawater to build a hard external limestone skeleton that protects the soft, delicate body of the polyp.
How do coral eat?
Some corals eat by catching tiny floating creatures called plankton. They extend their long stinging tentacles to capture plankton that float by the ocean currents. Coral polyps are generally nocturnal feeders. They stay inside their skeletons during the day, and come out to feed at night. Hard corals or reef-building corals derive their nutrition from zooxanthellae.
What are zooxanthellae?
Zooxanthellae are single-celled algae that live and grow within the tissue of hard coral polyps. Zooxanthellae and coral have a symbiotic relationship and rely on one another for survival. Zooxanthellae provide the polyps with food through the process photosynthesis. In turn, coral polyps provide zooxanthellae a safe and protected home.
How do coral reproduce?
Corals exhibit sexual and asexual reproduction. Sexual reproduction occurs when the egg and sperm are released into the water. The sperm then fertilized the egg, creating new individual called planula or coral larva. The larva naturally attaches itself to a hard surface and become a coral polyp. In asexual reproduction, the coral polyp divides making an exact genetic copy of itself.
How long does it take for corals to grow?
Corals need a long time to grow. In one year corals can grow about 1cm. In 100 years, massive corals may grow by only 1m. If a 5m coral is damaged, it can take up to 500 years to recover!!!
How old are coral reefs?
Coral reefs are one of the most ancient ecosystem on the earth. The first stages of coral reef evolution began 500 million years ago. Modern coral reefs have been in existence for over 50 million years. Some established coral reefs are between 5,000 and 10,000 years old.
Why are coral reefs important?
Coral reefs provide a range of services to plant earth and her inhabitants. Among the most important for humans are:
* Reefs protect shorelines from erosion
* They serve as nurseries for growing fish
* Reef animals are an important source of protein in the diets of many costal communities
* Reefs are sources of income for many people, through fishing and tourism
* There is evidence that coral reefs may provide the base ingredients for new medicines
What destroys coral reefs ?
Coral reefs are fragile ecosystems and can easily be damaged or destroyed. Among the most destructive practices are blast fishing, the use of poison to stun fish and dropping anchor in coral. Coral can be damaged by just being touched and unaware divers and snorklers are often the culprits. Coral is also damaged as a result of pollution and siltation. Natural phenomena such as earthquakes and predation (for example, by the crown-of-thorns starfish) also damage the coral.
What can you do to help protect coral reefs ?
* Don't purchase items or souvenirs made from coral or other threatened marine life such as dried coral, pufferfish, or giant clam shells.
* Don't touch, stand on, or collect coral when you are snorkeling.
* If you are a diver, maintain control of fins, gauges, and other equipment so that they do not bump against the reef.
* If you have a tropical aquarium, make sure that you do not purchase fish caught using cyanide or other poisons.
* There is evidence that coral reefs may provide the base ingredients for new medicines
* Join an environmental organization that supports marine ecosystems
Read more: Coral Reef | The Indonesian Coral Reef Foundation (KLIK HERE)
What is a coral reef?
Coral reefs are massive limestone structure that provides shelter for marine life. They are the gardens and forests of the sea. As one of the largest and most complex ecosystem on the planet, coral reef are home to approximately 25 % of the ocean's species. To imagine a coral reef, think of it as a bustling community, a city of the sea, with the building made of corals, and thousand of inhabitants coming and going, carrying out their business.
What is coral?
Corals look like a plant or a rock. But it is actually composed of tiny, fragile animals called polyp. There are two types of coral: hard corals and soft corals. Hard corals or reef-building corals are hard as rock. Their skeletons are made out of calcium carbonate. Hard corals need zooxanthellae for survival and only live in clear shallow water. Soft corals look like plants or trees. They are non-reef building corals and don't posses zooxanthellae. Soft corals can be found both in tropical seas and in cool, dark water.
What is a polyp?
A polyp is a simple creature. They do not have back bone or invertebrates, and are cousins of jellyfish. A polyp has a sack-like structure. At its free end is a mouth surrounded by numerous stinging tentacles called cnidae. The polyp extracts calcium carbonate from seawater to build a hard external limestone skeleton that protects the soft, delicate body of the polyp.
How do coral eat?
Some corals eat by catching tiny floating creatures called plankton. They extend their long stinging tentacles to capture plankton that float by the ocean currents. Coral polyps are generally nocturnal feeders. They stay inside their skeletons during the day, and come out to feed at night. Hard corals or reef-building corals derive their nutrition from zooxanthellae.
What are zooxanthellae?
Zooxanthellae are single-celled algae that live and grow within the tissue of hard coral polyps. Zooxanthellae and coral have a symbiotic relationship and rely on one another for survival. Zooxanthellae provide the polyps with food through the process photosynthesis. In turn, coral polyps provide zooxanthellae a safe and protected home.
How do coral reproduce?
Corals exhibit sexual and asexual reproduction. Sexual reproduction occurs when the egg and sperm are released into the water. The sperm then fertilized the egg, creating new individual called planula or coral larva. The larva naturally attaches itself to a hard surface and become a coral polyp. In asexual reproduction, the coral polyp divides making an exact genetic copy of itself.
How long does it take for corals to grow?
Corals need a long time to grow. In one year corals can grow about 1cm. In 100 years, massive corals may grow by only 1m. If a 5m coral is damaged, it can take up to 500 years to recover!!!
How old are coral reefs?
Coral reefs are one of the most ancient ecosystem on the earth. The first stages of coral reef evolution began 500 million years ago. Modern coral reefs have been in existence for over 50 million years. Some established coral reefs are between 5,000 and 10,000 years old.
Why are coral reefs important?
Coral reefs provide a range of services to plant earth and her inhabitants. Among the most important for humans are:
* Reefs protect shorelines from erosion
* They serve as nurseries for growing fish
* Reef animals are an important source of protein in the diets of many costal communities
* Reefs are sources of income for many people, through fishing and tourism
* There is evidence that coral reefs may provide the base ingredients for new medicines
What destroys coral reefs ?
Coral reefs are fragile ecosystems and can easily be damaged or destroyed. Among the most destructive practices are blast fishing, the use of poison to stun fish and dropping anchor in coral. Coral can be damaged by just being touched and unaware divers and snorklers are often the culprits. Coral is also damaged as a result of pollution and siltation. Natural phenomena such as earthquakes and predation (for example, by the crown-of-thorns starfish) also damage the coral.
What can you do to help protect coral reefs ?
* Don't purchase items or souvenirs made from coral or other threatened marine life such as dried coral, pufferfish, or giant clam shells.
* Don't touch, stand on, or collect coral when you are snorkeling.
* If you are a diver, maintain control of fins, gauges, and other equipment so that they do not bump against the reef.
* If you have a tropical aquarium, make sure that you do not purchase fish caught using cyanide or other poisons.
* There is evidence that coral reefs may provide the base ingredients for new medicines
* Join an environmental organization that supports marine ecosystems
Read more: Coral Reef | The Indonesian Coral Reef Foundation (KLIK HERE)
Langganan:
Postingan (Atom)


















