Minggu, 04 Desember 2011
Letusan Krakatau dalam Catatan
KOMPAS.com — Saat letusan Gunung Krakatau tahun 1883, teknik pendokumentasian canggih seperti sekarang belum ada. Sekalipun seismograf mulai dikembangkan, belum ada jaringan yang mendunia, apalagi seismograf yang beroperasi dalam radius 5.000 kilometer dari Krakatau ataupun teknologi satelit.
Rekaman suara, seperti telepon dan radio, telah ditemukan, tetapi belum digunakan di belahan timur dunia. Teknologi film sudah lahir, tetapi belum fleksibel dan mudah dibawa seperti saat ini. Keterbatasan ini membuat dokumentasi melalui tulisan lebih banyak tersedia. Korespondensi, jurnal, dan berita koran merupakan rekaman utama peristiwa letusan Krakatau.
Catatan-catatan dikumpulkan oleh Tom Simkin dan Richard S Fiske dalam bukunya, Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects. Sementara satu-satunya tulisan pribumi tentang letusan itu termuat dalam "Syair Lampung Karam" yang dialihaksarakan Suryadi Sunuri. Berikut beberapa ringkasan catatan tersebut.
Catatan Kapten Johan Lindeman yang membawa Kapal Governor General Loudon melalui Selat Sunda. Kapal berangkat dari Batavia membawa rombongan sebanyak 86 penumpang menuju Krakatau.
Minggu, 26 Agustus 1883, kapal mulai dihujani abu dan batu apung. Angin mulai bertiup kencang dan kapal berjuang melewati Krakatau, lalu melepas jangkar di dekat Teluk Betung, Lampung. Senin, 27 Agustus, sekitar pukul 7 terlihat gelombang besar yang kemudian tumpah dan menyapu daratan. Dengan tenaga uap, kapal menuju Anyer, sementara hujan lumpur dan abu membuat lapisan tebal dan orang sulit bernapas. Suasana semakin gelap, dan pukul 10.30 pagi kegelapan total segelap malam menyelimuti. Disusul angin topan dan gelombang tinggi setinggi surga (langit) dan membuat orang-orang khawatir bakal terkubur gelombang, namun kapal terus melaju dengan kepala kapal menghadap ke gelombang. Sore hari, angin mereda. Kegelapan menyelimuti hingga subuh pukul 4 keesokan harinya, 28 Agustus. Hari itu, sekitar pukul 6.50 sore, sampai dengan selamat di Teluk Bantam. Dalam perjalanan pulang itu, terlihat bagian tengah Krakatau telah menghilang.
Laporan koran Java Bode. Senin 27 Agustus 1883, tiba-tiba, sekitar pukul 9, langit menjadi gelap. Orang-orang tidak bisa melihat dalam jarak dekat dan lilin-lilin pun dinyalakan. Abu mulai berjatuhan, sementara langit di bagian barat tampak cahaya kekuningan. Telegram pertama diterima dari Serang yang mengabarkan letusan Krakatau. Letusannya terdengar dan pijaran apinya terlihat pada malam hari di Serang. 28 Agustus 1883, dari Serang datang kabar kondisi hujan abu dan korban jiwa di Anyer.
GF Tydemann adalah seorang letnan kapal perang Koningin Emma der Nederlander. Tydemann menceritakan kedatangan tsunami. Pukul 9.30 pagi, kegelapan mulai menyelimuti. Tekanan udara di dalam kapal berubah drastis, menimbulkan tekanan aneh di telinga. Sementara itu, hujan abu semakin tebal. Bukan tekanan angin ternyata, melainkan tekanan air yang mengganggu kapal hingga pukul 12.00 siang. Air mulai naik dengan cepat sebelum sore hari. Begitu cepat dan tingginya sehingga segera menyapu bagian atas dermaga. Dan tiba-tiba air bergulung menuju permukiman, dari sana terdengar teriakan dan tangis ketakutan. Orang-orang dalam paniknya berusaha memanjat apa pun yang mengambang, ke kapal-kapal di dermaga, kapal uap pemerintah Siak, dan akhirya juga ke kapal Tydemann.
Satu-satunya kesaksian pribumi ditulis Muhammad Saleh dalam bentuk "Syair Lampung Karam". Ahli filologi dan dosen/peneliti di Universitas Leiden, Suryadi Sunuri, mengalihaksarakan naskah yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab-Melayu (Jawi). Setelah meneliti syair itu, Suryadi berpendapat, pengarang menulis syair itu di Kampung Bengkulu yang kemudian dikenal sebagai Bencoolen Street di Singapura. Muhammad Saleh menyatakan datang dari Tanjung Karang, Lampung, dan mengaku menyaksikan langsung malapetaka akibat letusan Krakatau. Boleh jadi Saleh mengungsi ke Singapura lantaran bencana itu. Berikut penggalan syairnya yang menceritakan kedahsyatan letusan Krakatau:
….
Di dalam hal demikian peri,
Berbunyi meriam tiga kali,
Kerasnya itu tidak terperi,
Bertambah gentar seisi negeri.
Isi negeri sangat ketakutan,
Kerasnya bunyinya tiada tertahan,
Turunlah angin sertanya hujan,
Mengadang mata umat sekalian
Banyaklah lari membawa hartanya ,
Di dalam perahu, sampan, koleknya,
Dipukul gelombang hilang dianya
Harta, perahu, habis semuanya.
....
Kepiting Berambut Bisa "Bertani" di Laut Dalam
OREGON, KOMPAS.com - Tahun 2006, ilmuwan menemukan spesies kepiting buta yang hidup di celah resapan metana 1.000 meter di bawah permukaan laut Kosta Rica. Dalam publikasi di jurnal PLoS ONE, Rabu (30/11/2011), Andrew Thurber, ilmuwan yang mengidentifikasi, mendeskripsikannya sebagai Kiwa puravida, berarti kehidupan murni.
Spesies itu merupakan spesies kedua dari golongan kepiting yeti, yakni kepiting yang punya lengan-lengan panjang dan berambut. Sebelumnya, ditemukan spesies kepiting putih buta (Kiwa hirsuta) di kedalaman 2.300 meter laut dekat wilayah Easter Island.
Andrew Thurber, peneliti biologi kelautan dari Oregon State University, AS, mengungkapkan bahwa hal yang paling menarik dari Kiwa puravida ialah kemampuannya "bertani". Ini diketahui ilmuwan ketika melakukan pengamatan dengan kamera.
Lengan Kiwa puravida selalu bergerak. Gerakan ternyata bisa mengumpulkan nutrisi, oksigen dan belerang. Akibat gerakan, lengan kepiting pun menjadi wilayah kaya nutrisi, yang lalu menjadi lahan empuk bagi bakteri untuk tumbuh. Kepiting kemudian memanen bakteri yang tumbuh sebagai makanan.
Dengan kemampuan kepiting bertani, Thurber mengatakan, "Kami menunjukkan dengan jelas bahwa spesies ini tidak menggunakan energi dari Matahari sebagai sumber makanan utama. Dia menggunakan energi kimia yang berasal dari dasar lautan."
Salah satu sumber makanan di laut adalah fitoplankton, biota yang hidup dengan berfotosistesis layaknya tumbuhan di darat, membutuhkan sinar matahari. Karena tak memakannya, maka Kiwa puravida tidak membutuhkan energi dari Matahari.
"Penemuan ini menunjukkan betapa sedikitnya kita tahu tentang laut dalam, betapa banyak yang harus kita temukan dan lindungi ketika ekspansi eksploitasi sumber daya telah sampai ke area ini," ungkap Thurder.
Spesies itu merupakan spesies kedua dari golongan kepiting yeti, yakni kepiting yang punya lengan-lengan panjang dan berambut. Sebelumnya, ditemukan spesies kepiting putih buta (Kiwa hirsuta) di kedalaman 2.300 meter laut dekat wilayah Easter Island.
Andrew Thurber, peneliti biologi kelautan dari Oregon State University, AS, mengungkapkan bahwa hal yang paling menarik dari Kiwa puravida ialah kemampuannya "bertani". Ini diketahui ilmuwan ketika melakukan pengamatan dengan kamera.
Lengan Kiwa puravida selalu bergerak. Gerakan ternyata bisa mengumpulkan nutrisi, oksigen dan belerang. Akibat gerakan, lengan kepiting pun menjadi wilayah kaya nutrisi, yang lalu menjadi lahan empuk bagi bakteri untuk tumbuh. Kepiting kemudian memanen bakteri yang tumbuh sebagai makanan.
Dengan kemampuan kepiting bertani, Thurber mengatakan, "Kami menunjukkan dengan jelas bahwa spesies ini tidak menggunakan energi dari Matahari sebagai sumber makanan utama. Dia menggunakan energi kimia yang berasal dari dasar lautan."
Salah satu sumber makanan di laut adalah fitoplankton, biota yang hidup dengan berfotosistesis layaknya tumbuhan di darat, membutuhkan sinar matahari. Karena tak memakannya, maka Kiwa puravida tidak membutuhkan energi dari Matahari.
"Penemuan ini menunjukkan betapa sedikitnya kita tahu tentang laut dalam, betapa banyak yang harus kita temukan dan lindungi ketika ekspansi eksploitasi sumber daya telah sampai ke area ini," ungkap Thurder.
Telur Penyu "Bicara" Sebelum Menetas
SYDNEY, KOMPAS.com — Spesies penyu sungai Australia (Emydura macquarii) meletakkan sekumpulan telur di pasir sungai. Telur yang berada di bawah perkembangannya lebih lambat daripada yang di atas. Namun, telur di kedua bagian itu ternyata menetas bersama.
Ricky-John Spencer dari University of Western Sydney di Australia penasaran dengan fakta tersebut. Ia menduga bahwa telur-telur tersebut "saling bicara" terlebih dahulu sebelum menetas.
Untuk membuktikan dugaannya, ia merancang eksperimen. Spencer membagi sejumlah telur menjadi dua bagian. Satu bagian diinkubasi di suhu lebih yang tinggi, sedangkan bagian lain diinkubasi di suhu lebih yang rendah. Setelah dua pertiga masa perkembangan telur, keduanya lalu disatukan kembali.
Hasil menunjukkan bahwa kedua bagian telur tetap menetas dalam waktu bersamaan. Ketika dipersatukan, telur yang lebih lambat perkembangannya mengejar sehingga bisa menetas di waktu yang sama.
Menurut Spencer, kedua bagian telur itu mungkin berkomunikasi secara kimia. "Telur itu sebenarnya bernapas. Mereka menghirup oksigen dan mengeluarkan CO2," katanya seperti dikutip New Scientist, Rabu (30/11/2011).
Spencer menjelaskan bahwa telur yang lebih cepat perkembangannya akan mengeluarkan CO2 lebih banyak. Konsentrasi CO2 ini yang menjadi semacam "panggilan" sekaligus pemicu agar telur lain lebih cepat berkembang.
Hasil penelitian Spencer dipublikasikan di Proceeding of the Royal Society B edisi terbaru November 2011. Spencer menjelaskan bahwa menetas bersama sangat penting bagi kesintasan penyu. Hal itu akan memastikan individu yang rentan terlindungi dari predator. Mereka memiliki teman yang melindungi.
Ricky-John Spencer dari University of Western Sydney di Australia penasaran dengan fakta tersebut. Ia menduga bahwa telur-telur tersebut "saling bicara" terlebih dahulu sebelum menetas.
Untuk membuktikan dugaannya, ia merancang eksperimen. Spencer membagi sejumlah telur menjadi dua bagian. Satu bagian diinkubasi di suhu lebih yang tinggi, sedangkan bagian lain diinkubasi di suhu lebih yang rendah. Setelah dua pertiga masa perkembangan telur, keduanya lalu disatukan kembali.
Hasil menunjukkan bahwa kedua bagian telur tetap menetas dalam waktu bersamaan. Ketika dipersatukan, telur yang lebih lambat perkembangannya mengejar sehingga bisa menetas di waktu yang sama.
Menurut Spencer, kedua bagian telur itu mungkin berkomunikasi secara kimia. "Telur itu sebenarnya bernapas. Mereka menghirup oksigen dan mengeluarkan CO2," katanya seperti dikutip New Scientist, Rabu (30/11/2011).
Spencer menjelaskan bahwa telur yang lebih cepat perkembangannya akan mengeluarkan CO2 lebih banyak. Konsentrasi CO2 ini yang menjadi semacam "panggilan" sekaligus pemicu agar telur lain lebih cepat berkembang.
Hasil penelitian Spencer dipublikasikan di Proceeding of the Royal Society B edisi terbaru November 2011. Spencer menjelaskan bahwa menetas bersama sangat penting bagi kesintasan penyu. Hal itu akan memastikan individu yang rentan terlindungi dari predator. Mereka memiliki teman yang melindungi.
Jumat, 28 Oktober 2011
How Spooky Deep-Sea Creatures
Source: Livescience.com
Crimson Jellyfish
Credit: Edith A. Widder |
Operation Deep Scope 2005 Exploration | NOAA-OE | NOAAA deep-sea jellyfish, the blood-red Atolla wyvillei emits a spooky blue light when it is threatened by a predator. Its bioluminescent light flashes in a hypnotic, rotating pinwheel pattern around its body.
Eerie Anglerfish
Credit: Jared Benney | flickr.com
The terrifyingly toothy anglerfish became a common occurrence in little kids' nightmares ever since it chased Nemo and Dory in Pixar's "Finding Nemo." To attract prey, the scary-looking fish uses a bioluminescent "fishing pole" that hangs just above and in front of its toothy face. The lure is actually a piece of dorsal spine packed with millions of glow-in-the-dark bacteria.
Saber-Toothed Viperfish
Credit:David Csepp | NMFS/AKFSC/ABL | NOAA
The fittingly named viperfish has long, needle-like teeth and hinged lower jaws. This deepwater monster prefers warm tropical waters, where it sinks its fang-like teeth into prey, immobilizing them.
Monstrous Megamouth Shark
Credit: NOAA
The megamouth shark, shown here, is an extremely rare species of deepwater shark. The megamouth swims with its mouth wide open, catching and sucking in fish and krill as it glides along. Its massive mouth extends past its eyes and is equipped with about 50 rows of small, sharp teeth on each jaw.
Halloween Holothurians
Credit:Nikita Tiunov | shutterstock
Not all species of sea cucumbers (Holothurians) look like, well, cucumbers. Some species, which have swaying branch-like tentacles on one end of their long bodies, more closely resemble a chubby stalk of broccoli. Above is a colorful shot of a purple and orange-colored sea cucumber with its tentacles spread out.
The Blackdragon Fish
Credit:Dr. Julian Finn, Museum Victoria
Another bottom-dwelling bioluminescent creature, the blackdragon fish has light-emitting organs arranged all along its belly to fool predators by changing its silhouette. The spooky fish also has bioluminescencant "flashlights" next to each eye that it can flash on while on the look-out for prey or to signal potential mates. As you can see in the above photo, the blackdragon fish is so toothy that even its tongue has razor-sharp teeth.
Armored Searobin
Credit:bio.umass.edu
Found in deep tropical waters around the world, the coral-red armored searobins have bodies encased in heavy scales. They also possess prominent spines, with barbels on their chins for luring in unsuspecting prey.
Vampire Squid
Credit:2004 MBARI
Despite its terrifying name, the vampire squid is relatively tiny, reaching a maximum of 6 inches (15.4 cm) in length. It gets its name from its red coloring, glowing, bioluminescent eyes and the cloak-like webbing that connects its eight arms. Although it has similarities with both squid and octopuses, it is actually not a squid but in its own separate family, of which it is the last remaining member; as such, the animal is referred to as a "living fossil." Its scientific name, Vampyroteuthis infernalis, literally translates to "vampire squid from hell." Yikes.
Frightening Fangtooth
Credit: Joel E. Van Noord
Named for its long, vampire-like teeth the fangtooth fish inhabits the extreme deep waters of the ocean. In proportion to its body size, it has some of the largest teeth of any fish. Although it may look scary, the endangered fangtooth only grows to about 6 inches (16 cm) in length.
Coffinfish
Credit:New Zealand-American Submarine
Ring of Fire 2005 Exploration | NOAA Vents Program The cryptically named coffinfish more resembles a colorful autumn gourd than a casket. The scowling fish can often be found resting on the bottom of the ocean, using its tiny fins like legs to prop itself up.
Skeletal Jellyfish
Credit: NOAA Ocean Explorer
The deep-sea Aequorea, or crystal jellyfish, has a translucent body and long tentacles that give it a ghostly appearance. A jellyfish's tentacles, which trail after its body, can be less than an inch to120 feet (30.48 meters) long.v
Life In the Shadowy Depths
Credit: U.S. Antarctic Program Photo Library
From frightful fangtooth fish and vampire squid to coffinfish and spiky, sinister sea urchins, plenty of strange and scary creatures lurk in the dark, cold depths of the ocean ... Be brave and dive on in!
Scary Stargazer
Credit: Levent Konuk | shutterstock
This frightening fish is charmingly named stargazer, because its eyes are situated on top of its head. The fish burrows its flat body underneath the sand, hiding itself so that it is still able to peek out. It then hunkers down waiting to strike if prey swims by. Although many stargazers dwell in shallow water, Northern stargazers live in the deep waters off the Atlantic Coast.
Crimson Jellyfish
Credit: Edith A. Widder |
Operation Deep Scope 2005 Exploration | NOAA-OE | NOAAA deep-sea jellyfish, the blood-red Atolla wyvillei emits a spooky blue light when it is threatened by a predator. Its bioluminescent light flashes in a hypnotic, rotating pinwheel pattern around its body.
Eerie Anglerfish
Credit: Jared Benney | flickr.com
The terrifyingly toothy anglerfish became a common occurrence in little kids' nightmares ever since it chased Nemo and Dory in Pixar's "Finding Nemo." To attract prey, the scary-looking fish uses a bioluminescent "fishing pole" that hangs just above and in front of its toothy face. The lure is actually a piece of dorsal spine packed with millions of glow-in-the-dark bacteria.
Saber-Toothed Viperfish
Credit:David Csepp | NMFS/AKFSC/ABL | NOAA
The fittingly named viperfish has long, needle-like teeth and hinged lower jaws. This deepwater monster prefers warm tropical waters, where it sinks its fang-like teeth into prey, immobilizing them.
Monstrous Megamouth Shark
Credit: NOAA
The megamouth shark, shown here, is an extremely rare species of deepwater shark. The megamouth swims with its mouth wide open, catching and sucking in fish and krill as it glides along. Its massive mouth extends past its eyes and is equipped with about 50 rows of small, sharp teeth on each jaw.
Halloween Holothurians
Credit:Nikita Tiunov | shutterstock
Not all species of sea cucumbers (Holothurians) look like, well, cucumbers. Some species, which have swaying branch-like tentacles on one end of their long bodies, more closely resemble a chubby stalk of broccoli. Above is a colorful shot of a purple and orange-colored sea cucumber with its tentacles spread out.
The Blackdragon Fish
Credit:Dr. Julian Finn, Museum Victoria
Another bottom-dwelling bioluminescent creature, the blackdragon fish has light-emitting organs arranged all along its belly to fool predators by changing its silhouette. The spooky fish also has bioluminescencant "flashlights" next to each eye that it can flash on while on the look-out for prey or to signal potential mates. As you can see in the above photo, the blackdragon fish is so toothy that even its tongue has razor-sharp teeth.
Armored Searobin
Credit:bio.umass.edu
Found in deep tropical waters around the world, the coral-red armored searobins have bodies encased in heavy scales. They also possess prominent spines, with barbels on their chins for luring in unsuspecting prey.
Vampire Squid
Credit:2004 MBARI
Despite its terrifying name, the vampire squid is relatively tiny, reaching a maximum of 6 inches (15.4 cm) in length. It gets its name from its red coloring, glowing, bioluminescent eyes and the cloak-like webbing that connects its eight arms. Although it has similarities with both squid and octopuses, it is actually not a squid but in its own separate family, of which it is the last remaining member; as such, the animal is referred to as a "living fossil." Its scientific name, Vampyroteuthis infernalis, literally translates to "vampire squid from hell." Yikes.
Frightening Fangtooth
Credit: Joel E. Van Noord
Named for its long, vampire-like teeth the fangtooth fish inhabits the extreme deep waters of the ocean. In proportion to its body size, it has some of the largest teeth of any fish. Although it may look scary, the endangered fangtooth only grows to about 6 inches (16 cm) in length.
Coffinfish
Credit:New Zealand-American Submarine
Ring of Fire 2005 Exploration | NOAA Vents Program The cryptically named coffinfish more resembles a colorful autumn gourd than a casket. The scowling fish can often be found resting on the bottom of the ocean, using its tiny fins like legs to prop itself up.
Skeletal Jellyfish
Credit: NOAA Ocean Explorer
The deep-sea Aequorea, or crystal jellyfish, has a translucent body and long tentacles that give it a ghostly appearance. A jellyfish's tentacles, which trail after its body, can be less than an inch to120 feet (30.48 meters) long.v
Life In the Shadowy Depths
Credit: U.S. Antarctic Program Photo Library
From frightful fangtooth fish and vampire squid to coffinfish and spiky, sinister sea urchins, plenty of strange and scary creatures lurk in the dark, cold depths of the ocean ... Be brave and dive on in!
Scary Stargazer
Credit: Levent Konuk | shutterstock
This frightening fish is charmingly named stargazer, because its eyes are situated on top of its head. The fish burrows its flat body underneath the sand, hiding itself so that it is still able to peek out. It then hunkers down waiting to strike if prey swims by. Although many stargazers dwell in shallow water, Northern stargazers live in the deep waters off the Atlantic Coast.
Makhluk Aneh Ditemukan di Palung Mariana
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 24 Oktober 2011 | 09:10 WIB
From: Kompas.com
KOMPAS.com — Ilmuwan dari Scripps Institute of Oceanography di University California San Diego menemukan makhluk hidup aneh di Palung Mariana, bagian lautan paling dalam di Bumi. Makhluk hidup aneh tersebut berupa amoeba raksasa, secara ilmiah disebut xenophyophores, ditemukan di kedalaman sekitar 10,5 km di bawah permukaan laut.
"Amoeba raksasa yang mengagumkan itu bisa beradaptasi dengan sangat baik di lingkungan ekstrem, tetapi pada saat yang sama sangat rentan dan tidak banyak dipelajari," kata Lisa Levin, biolog Laut Dalam yang juga Direktur Scripps Center for Marine Biodiversity and Conservation.
Levin menjelaskan, xenophyophores adalah salah satu individu satu sel terbesar, kadang bisa tumbuh hingga 10 cm. Studi terkini mengindikasikan, dengan menjebak partikel dalam air, xenophyophores bisa mengakumulasikan timbal, uranium, dan merkuri sehingga dianggap resisten terhadap logam berat.
Diketahui, xenophyophores sangat cocok hidup di tempat yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi seperti di kedalaman lautan. "Identifikasi sel raksasa di lingkungan laut terdalam ini membuka habitat baru bagi studi biodiversitas dan adaptasi lingkungan ekstrem," kata Levin seperti dikutip Foxnews, Jumat (21/10/2011).
Untuk bisa menemukan makhluk hidup ini, Levin bekerja sama dengan Eric Berkenpas dan Graham Wilhelm, insinyur pencitraan daerah sulit terjangkau dari National Geographic Society. Mereka menggunakan peralatan yang disebut "dropcams", terdiri dari kamera HD dan lampu yang berada di dalam bahan gelas. Peralatan ini mampu bertahan di lingkungan laut yang bertekanan tinggi.
From: Kompas.com
KOMPAS.com — Ilmuwan dari Scripps Institute of Oceanography di University California San Diego menemukan makhluk hidup aneh di Palung Mariana, bagian lautan paling dalam di Bumi. Makhluk hidup aneh tersebut berupa amoeba raksasa, secara ilmiah disebut xenophyophores, ditemukan di kedalaman sekitar 10,5 km di bawah permukaan laut.
"Amoeba raksasa yang mengagumkan itu bisa beradaptasi dengan sangat baik di lingkungan ekstrem, tetapi pada saat yang sama sangat rentan dan tidak banyak dipelajari," kata Lisa Levin, biolog Laut Dalam yang juga Direktur Scripps Center for Marine Biodiversity and Conservation.
Levin menjelaskan, xenophyophores adalah salah satu individu satu sel terbesar, kadang bisa tumbuh hingga 10 cm. Studi terkini mengindikasikan, dengan menjebak partikel dalam air, xenophyophores bisa mengakumulasikan timbal, uranium, dan merkuri sehingga dianggap resisten terhadap logam berat.
Diketahui, xenophyophores sangat cocok hidup di tempat yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi seperti di kedalaman lautan. "Identifikasi sel raksasa di lingkungan laut terdalam ini membuka habitat baru bagi studi biodiversitas dan adaptasi lingkungan ekstrem," kata Levin seperti dikutip Foxnews, Jumat (21/10/2011).
Untuk bisa menemukan makhluk hidup ini, Levin bekerja sama dengan Eric Berkenpas dan Graham Wilhelm, insinyur pencitraan daerah sulit terjangkau dari National Geographic Society. Mereka menggunakan peralatan yang disebut "dropcams", terdiri dari kamera HD dan lampu yang berada di dalam bahan gelas. Peralatan ini mampu bertahan di lingkungan laut yang bertekanan tinggi.
Pohon Evolusi Mollusca Berhasil Dibuat
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Jumat, 28 Oktober 2011 | 21:31 WI
From: Kompas.com
KOMPAS.com - Casey Dunn, pakar evolusi dari Brown University, AS, berhasil mengembangkan pohon evolusi mollusca atau hewan bertubuh lunak. Pohon evolusi adalah suatu bagan yang menunjukkan relasi antara satu spesies dengan spesies lainnya secara evolusioner.
Pohon evolusi mollusca yang berhasil dikembangkan itu menjadi gambaran kekerabatan mollusca pertama yang paling lengkap dan dipublikasikan di Jurnal Nature. Untuk mengembangkan pohon evolusi itu, Cunn mengambil sampel beragam jenis mollusca. Selanjutnya, tim menganalisa susunan gen pada tiap spesies dan membandingkannya satu sama lain.
Hasil studi ini telah menempatkan golongan mollusca laut dalam yang disebut Monoplacophora. Jenis ini sebelumnya diduga punah hingga ditemukan pada tahun 1952 di pantai Meksiko. Studi jenis Monoplacophora dilakukan dengan spesimen yang ditangkap selama ekspedisi tahun 2007 oleh tim yang dipimpin oleh Nerida Wilson, juga tergabung dalam penelitian ini.
Setelah ekstraksi DNA, tim mendapatkan hasil bahwa Monoplacophora memiliki kekerabatan dengan grup mollusca yang disebut Cephalopoda, meliputi gurita dan cumi-cumi. "Cephalopoda sangat berbeda dengan mollusca lain, sangat sulit dimengerti bagaimana mereka bisa memiliki kekerabatan. Mereka berbeda dengan yang lainnya," ungkap Dunn.
Cephalopoda secara umum adalah jenis mollusca yang memiliki kaki di kepala dan tidak memiliki cangkang. Beberapa cephalopoda memiliki kantung tinta dan tentakel.
"Sekarang kita mengetahui bahwa ada dua grup paling berbeda dalam mollusca ternyata bersaudara," ungkap Dunn seperti dikutip situs ScienceDaily, Rabu (26/10/2011).
Berdasarkan hasil penelitian, ilmuwan juga mengungkapkan bahwa spesies yang tergabung dalam grup Cephalopoda atau Monoplacophora mungkin adalah nenek moyang mollusca, meski belum diketahui jenisnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak. Selain Brown University, pihak lain yang terlibat adalah Harvard University dan Australia Museum.
From: Kompas.com
KOMPAS.com - Casey Dunn, pakar evolusi dari Brown University, AS, berhasil mengembangkan pohon evolusi mollusca atau hewan bertubuh lunak. Pohon evolusi adalah suatu bagan yang menunjukkan relasi antara satu spesies dengan spesies lainnya secara evolusioner.
Pohon evolusi mollusca yang berhasil dikembangkan itu menjadi gambaran kekerabatan mollusca pertama yang paling lengkap dan dipublikasikan di Jurnal Nature. Untuk mengembangkan pohon evolusi itu, Cunn mengambil sampel beragam jenis mollusca. Selanjutnya, tim menganalisa susunan gen pada tiap spesies dan membandingkannya satu sama lain.
Hasil studi ini telah menempatkan golongan mollusca laut dalam yang disebut Monoplacophora. Jenis ini sebelumnya diduga punah hingga ditemukan pada tahun 1952 di pantai Meksiko. Studi jenis Monoplacophora dilakukan dengan spesimen yang ditangkap selama ekspedisi tahun 2007 oleh tim yang dipimpin oleh Nerida Wilson, juga tergabung dalam penelitian ini.
Setelah ekstraksi DNA, tim mendapatkan hasil bahwa Monoplacophora memiliki kekerabatan dengan grup mollusca yang disebut Cephalopoda, meliputi gurita dan cumi-cumi. "Cephalopoda sangat berbeda dengan mollusca lain, sangat sulit dimengerti bagaimana mereka bisa memiliki kekerabatan. Mereka berbeda dengan yang lainnya," ungkap Dunn.
Cephalopoda secara umum adalah jenis mollusca yang memiliki kaki di kepala dan tidak memiliki cangkang. Beberapa cephalopoda memiliki kantung tinta dan tentakel.
"Sekarang kita mengetahui bahwa ada dua grup paling berbeda dalam mollusca ternyata bersaudara," ungkap Dunn seperti dikutip situs ScienceDaily, Rabu (26/10/2011).
Berdasarkan hasil penelitian, ilmuwan juga mengungkapkan bahwa spesies yang tergabung dalam grup Cephalopoda atau Monoplacophora mungkin adalah nenek moyang mollusca, meski belum diketahui jenisnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak. Selain Brown University, pihak lain yang terlibat adalah Harvard University dan Australia Museum.
Kamis, 06 Oktober 2011
Dari Kiat Hidup Hijau hingga Memancing Oksigen
KOMPAS.com — Kompetisi E-Idea yang diselenggarakan British Council mempertemukan 7 negara untuk mencari permasalahan seputar lingkungan di negara masing-masing dan berusaha mencari solusinya. Setelah melalui proses penjurian di masing-masing negara, ketujuh negara tersebut memiliki pemenang masing-masing yang kemudian dipertemukan di Jakarta. Ketujuh negara adalah Indonesia, Thailand, Vietnam, Australia, Jepang, China, dan Korea.
Pameran E-idea yang berjumlah 40 karya dipamerkan di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (5/10/2011) ini. Di antara beragam karya inovatif dari Thailand ada enam karya, dari kiat hidup hijau sampai cara memancing oksigen. Berikut adalah inovasi yang dimiliki para pemenang dari Thailand.
Pertama adalah Chontira Thipaksorn yang mengangkat cara mudah hidup hijau. Peraih Msc di bidang Postharvest Technology dari Chiangmai University ini bekerja di Northern Development Foundation. Dengan latar belakang kota Chiang Mai yang memiliki tingkat polusi tertinggi di Utara Thailand, Chontira membuat mesin serupa alat pengurai sampah makanan, sehingga warga tak perlu tergantung dengan teknologi. Alat ini mengolah sampah organik menjadi pupuk organik untuk tanah dan tanaman. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan kebersihan di tingkat rumah tangga sekaligus mempromosikan konsep pengelolaan sampah.
Kedua adalah Kanadej Thamanoonragsa yang membuat Pertanian Kota Urbie. Kanadej bekerja di Alpha Capital, yang bergerak di bidang energy terbarukan. Ia mengidamkan Bangkok menjadi sebuah kota yang terkenal dengan pertanian di tengah kota. Ia membangun komunitas di tengah kota untuk menambah area-area hijau di tembok, atap, dan taman. Nantinya komunitas yang terlibat juga bosa menikmati hasil pertanian segar dan menambah pendapatan mereka. Para petani kota bisa berkomunikasi melalui dunia maya dan juga bertatap muka untuk menjual produk pertanian, sekaligus memperkaya pengetahuan soal kemampuan produksi, penjualan, dan pendapatan.
Ketiga adalah Jantima Pipitsoontom yang melakukan pemilahan sampah dan daur ulang biowaste. Lulusan biokimia dari Chulangkom University ini mengelola sampah dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah, sekolah, komunitas masyarakat, dan bisnis pariwisata. Pemilahan sampah dipromosikan lewat bak-bak sampah, dimana turis juga diajak berpartisipasi, dengan ikut memilah sampah. Setelah itu, akan dibangun Learning Center of Biowaste Recycling dimana sampah yang telah dipilah akan dioleh dengan teknik biowaste.
Keempat adalah Saengabha yang membuat Pemanas Kreatif untuk Papan Partikel. Sarjana Sosial dari Mahidol University ini bergabung dengan perusahaan Kokoboard yang membuat particle board dari sampah pertanian. Perusahaan ini sudah membuat 5 macam particle board dari aneka sampah atau produk turunan pertanian, seperti gabah, biji bunga matahari, sekam, dan sabut kelapa. Dengan teknologi yang tepat, lini produksi particle board bisa dipastikan memakai energy yang bersih, sehingga produk yang dihasilkan betul-betul ramah lingkungan. Caranya adalah dengan membuat biogas dari strawboard chips sebagai bahan bakar bagi proses produksi papan partikel. Jika penggunaan mesin bahan bakar dikurangi, maka bisa memperkecil nilai investasi serta mengurangi jejak karbon. Penggunaan papan partikel secara umum diharapkan bisa menahan laju deforestasi serta memperpanjang umur hutan bagi generasi selanjutnya.
Kelima adalah Khwankhao Sinhanseni, pengusaha sosial yang membuat Pupuk Organik Keaw Suay Homm. Khwankhao adalah anggota proyek lingkungan di kota Chiang Mai. Proyek yang disebut Keaw Suay Homm ini mempromosikan konservasi alam lewat perusahaan social “Pupuk Keaw Suay Homm”. Polusi sampah organic menjadi salah satu persoalan lingkungan utama di kota Chiang Mai. Sebanyak 40 persen dari total sampah di Chiang Mai adalah sampah organic. Lewat proyek ini, sampah organic akan diubah menjadi pupuk organic. Sampah diambil petugas kota dari rumah-rumah warga, sementara perusahaan swasta dilibatkan untuk produksi pupuk. Sampah diolah menjadfi pupuk organic dengan menggunakan sistem penyaringan udara. Pupuk kemudian dijual dan hasilnya bisa digunakan untuk mendirikan pusat pendidikan di tengah kota.
Keenam adalah Sudarat Chomroong yang memancing oksigen dengan spesies antagonis trichoderma pada hutan bakau. Sudarat saat ini masih menjadi mahasiswa biologi di Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Untuk mengurangi pemanasan global, langkah harus difokuskan pada penyebab utamanya, yakni banyaknya karbondioksida di atmosfer. Proyek yang dikembangkan Sudarat akan memancing hadirnya oksigen dengan menggunakan spesies antagonis spawn trichoderma di hutan bakau. Jamur ini bisa meningkatkan daya tahan dan kekebalan hutan bakau. Jamur akan diolah ke dalam bentuk pupuk tablet yang digunakan di hutan-hutan bakau. Dengan pupuk ini, pohon bakau bisa berkembang pesat dengan gaya hidup yang lebih panjang. Bakau diyakini dapat berperan besar dalam mengurangi kadar karbon dioksida di udara. Proyek percobaan akan dilakukan di Provinsi Samutsakorn.
Pameran E-idea yang berjumlah 40 karya dipamerkan di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (5/10/2011) ini. Di antara beragam karya inovatif dari Thailand ada enam karya, dari kiat hidup hijau sampai cara memancing oksigen. Berikut adalah inovasi yang dimiliki para pemenang dari Thailand.
Pertama adalah Chontira Thipaksorn yang mengangkat cara mudah hidup hijau. Peraih Msc di bidang Postharvest Technology dari Chiangmai University ini bekerja di Northern Development Foundation. Dengan latar belakang kota Chiang Mai yang memiliki tingkat polusi tertinggi di Utara Thailand, Chontira membuat mesin serupa alat pengurai sampah makanan, sehingga warga tak perlu tergantung dengan teknologi. Alat ini mengolah sampah organik menjadi pupuk organik untuk tanah dan tanaman. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan kebersihan di tingkat rumah tangga sekaligus mempromosikan konsep pengelolaan sampah.
Kedua adalah Kanadej Thamanoonragsa yang membuat Pertanian Kota Urbie. Kanadej bekerja di Alpha Capital, yang bergerak di bidang energy terbarukan. Ia mengidamkan Bangkok menjadi sebuah kota yang terkenal dengan pertanian di tengah kota. Ia membangun komunitas di tengah kota untuk menambah area-area hijau di tembok, atap, dan taman. Nantinya komunitas yang terlibat juga bosa menikmati hasil pertanian segar dan menambah pendapatan mereka. Para petani kota bisa berkomunikasi melalui dunia maya dan juga bertatap muka untuk menjual produk pertanian, sekaligus memperkaya pengetahuan soal kemampuan produksi, penjualan, dan pendapatan.
Ketiga adalah Jantima Pipitsoontom yang melakukan pemilahan sampah dan daur ulang biowaste. Lulusan biokimia dari Chulangkom University ini mengelola sampah dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah, sekolah, komunitas masyarakat, dan bisnis pariwisata. Pemilahan sampah dipromosikan lewat bak-bak sampah, dimana turis juga diajak berpartisipasi, dengan ikut memilah sampah. Setelah itu, akan dibangun Learning Center of Biowaste Recycling dimana sampah yang telah dipilah akan dioleh dengan teknik biowaste.
Keempat adalah Saengabha yang membuat Pemanas Kreatif untuk Papan Partikel. Sarjana Sosial dari Mahidol University ini bergabung dengan perusahaan Kokoboard yang membuat particle board dari sampah pertanian. Perusahaan ini sudah membuat 5 macam particle board dari aneka sampah atau produk turunan pertanian, seperti gabah, biji bunga matahari, sekam, dan sabut kelapa. Dengan teknologi yang tepat, lini produksi particle board bisa dipastikan memakai energy yang bersih, sehingga produk yang dihasilkan betul-betul ramah lingkungan. Caranya adalah dengan membuat biogas dari strawboard chips sebagai bahan bakar bagi proses produksi papan partikel. Jika penggunaan mesin bahan bakar dikurangi, maka bisa memperkecil nilai investasi serta mengurangi jejak karbon. Penggunaan papan partikel secara umum diharapkan bisa menahan laju deforestasi serta memperpanjang umur hutan bagi generasi selanjutnya.
Kelima adalah Khwankhao Sinhanseni, pengusaha sosial yang membuat Pupuk Organik Keaw Suay Homm. Khwankhao adalah anggota proyek lingkungan di kota Chiang Mai. Proyek yang disebut Keaw Suay Homm ini mempromosikan konservasi alam lewat perusahaan social “Pupuk Keaw Suay Homm”. Polusi sampah organic menjadi salah satu persoalan lingkungan utama di kota Chiang Mai. Sebanyak 40 persen dari total sampah di Chiang Mai adalah sampah organic. Lewat proyek ini, sampah organic akan diubah menjadi pupuk organic. Sampah diambil petugas kota dari rumah-rumah warga, sementara perusahaan swasta dilibatkan untuk produksi pupuk. Sampah diolah menjadfi pupuk organic dengan menggunakan sistem penyaringan udara. Pupuk kemudian dijual dan hasilnya bisa digunakan untuk mendirikan pusat pendidikan di tengah kota.
Keenam adalah Sudarat Chomroong yang memancing oksigen dengan spesies antagonis trichoderma pada hutan bakau. Sudarat saat ini masih menjadi mahasiswa biologi di Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Untuk mengurangi pemanasan global, langkah harus difokuskan pada penyebab utamanya, yakni banyaknya karbondioksida di atmosfer. Proyek yang dikembangkan Sudarat akan memancing hadirnya oksigen dengan menggunakan spesies antagonis spawn trichoderma di hutan bakau. Jamur ini bisa meningkatkan daya tahan dan kekebalan hutan bakau. Jamur akan diolah ke dalam bentuk pupuk tablet yang digunakan di hutan-hutan bakau. Dengan pupuk ini, pohon bakau bisa berkembang pesat dengan gaya hidup yang lebih panjang. Bakau diyakini dapat berperan besar dalam mengurangi kadar karbon dioksida di udara. Proyek percobaan akan dilakukan di Provinsi Samutsakorn.
Langganan:
Postingan (Atom)














