We shall not cease from exploration
and the end of all our exploring
will be to arrive where we started
and know the place for the first time
through the unknown
remember gate
when the last of earth left to discover
is that which was the beginning
and the source of the longest river
the voice of the hidden waterfall
not known, because not looked for
but heard, half heard, in the stillness
between two wave of the sea
T.S Elliot
from 'little gidding' the four quarter
Rabu, 27 April 2011
Selasa, 12 April 2011
Hutan Bakau Simpan Lebih Banyak Karbon
JAKARTA, KOMPAS.com - Hutan bakau ternyata menyimpan lebih banyak karbon dibanding kebanyakan hutan hujan tropis. Hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) dan USDA Forest Service.
Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya pelestarian hutan bakau sebagai langkah mengatasi perubahan iklim. Selama ini, hutan bakau di kawasan pesisir selama ini dirusak dalam kecepatan signifikan, berkontribusi pada emisi gas rumah kaca.
Daniel Murdiyarso, ilmuwan senior CIFOR mengatakan, "Hutan bakau dihancurkan sangat cepat. Ini perlu dihentikan. Penelitian kami menunjukkan bahwa hutan bakau memainkan peranan penting dalam mitigasi melawan perubahan iklim."
Dalam studi yang dipublikasikan di Nature GeoSceince 3 April lalu itu, ilmuwan menghitung jumlah simpanan karbon di hutan bakau di sepanjang wilayah Indo-Pacific. Sejauh ini, belum ada studi serupa yang mengcover wilayah yang luas.
Dari hasil riset, terlihat bahwa perusakan dan degradasi hutan mangrove bisa menghasilkan setidaknya 10 persen dari emisi perusakan hutan global meskipun hanya terhitung 0,7 persen dari area hutan hujan tropis.
Kebanyakan karbon disimpan di dasar hutan mangrove dan bisa terlihat di permukaan tanah dan air. Mangrove sendiri diketahui terdapat di pantai tepi samudera, tersebar di 118 negara.
Perusakan hutan dan alih fungsi lahan berkontribusi sebanyak 8-20 persen dari total emisi karbon, kedua setelah penggunaan bahan bakar fosil. Inisiatif international REDD+ dipertimbangkan sebagai cara paling efektif menahan laju perubahan iklim.
Tahun 2500 Bumi Tak Layak Huni
from kompas.com
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pemanasan global, selain menyebabkan perubahan iklim, juga menaikkan suhu bumi rata-rata 0,2 derajat celsius per 10 tahun atau 2 derajat celsius dalam 100 tahun. Kenaikan suhu sebesar itu menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 20 sentimeter. Demikian diungkap Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Prof Dr Jumina, di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Senin (11/4/2011).
Lebih lanjut, Jumina mengatakan, tanpa ada upaya serius dan sistematis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) ke atmosfer bumi, suhu rata-rata permukaan bumi yang pada tahun 2010 berada pada kisaran 14,6 derajat celsius akan naik menjadi sekitar 25 derajat celsius pada tahun 2500.
"Artinya, bumi tak akan lagi menjadi tempat hunian yang nyaman bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahkan sangat mungkin manusia tak akan dapat bertahan hidup pada kondisi seperti itu," tutur Jumina.
Terjadinya peningkatan emisi CO2 secara terus-menerus itulah yang menyebabkan para pakar lingkungan merasa sangat prihatin. Usaha untuk mengurangi emisi CO2 pun dilakukan, antara lain melalui penandatanganan Protokol Kyoto pada 1999. Sayang, Amerika Serikat sebagai penyumbang emisi CO2 terbesar kedua di dunia hingga saat ini belum bersedia menandatangani protokol tersebut.
"Begitu pula China yang merupakan penghasil emisi CO2 terbesar di dunia," ungkapnya kemudian.
Data menunjukkan, sumbangan sektor energi terhadap emisi CO2 dan fenomena pemanasan global sangat besar. Dengan demikian, demi mengurangi tingkat emisi CO2 domestik dan menekan laju terjadinya pemanasan global, maka penerapan konsep energi bersih sangat diperlukan. "Energi bersih bisa diartikan sebagai energi ramah lingkungan, atau energi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," jelas Jumina.
Bila Indonesia dapat menerapkan konsep energi bersih, maka sistem energi yang dibangun bukan hanya menghasilkan ketahanan energi dalam arti terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan energi nasional, tapi juga dapat mewujudkan terciptanya lingkungan yang sehat, nyaman, dan lestari. "Sehingga sistem energi yang diterapkan akan bervisi jauh ke depan tanpa harus merampas hak dasar generasi penerus," kata Jumina.
Kenyataan, pengembangan teknologi energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia belum memuaskan. Keterbatasan kemampuan SDM merupakan faktor utama. Untuk itu, PSE UGM bekerja sama dengan Sekolah Pascasarjana UGM menggelar seminar sehari "Pengembangan Sumberdaya Manusia Bidang Energi Bersih Menuju Ketahanan Energi Nasional", di gedung Pascasarjana UGM, Selasa (12/4/2011).
Seminar menampilkan beberapa narasumber, antara lain anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr Ir Tumiran MEng; Direktur Energi, Telekomunikasi, dan Informatika Bappenas Ir Jadhie J Ardajat MSi; Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Dr Ing Evita Legowo; Direktur Energi Primer PLN Ir Nur Pamudji MEng; Kepala Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Ir Arryanto Sagala; serta Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ir Luluk Sumiarso MSc.
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pemanasan global, selain menyebabkan perubahan iklim, juga menaikkan suhu bumi rata-rata 0,2 derajat celsius per 10 tahun atau 2 derajat celsius dalam 100 tahun. Kenaikan suhu sebesar itu menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 20 sentimeter. Demikian diungkap Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Prof Dr Jumina, di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Senin (11/4/2011).
Lebih lanjut, Jumina mengatakan, tanpa ada upaya serius dan sistematis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) ke atmosfer bumi, suhu rata-rata permukaan bumi yang pada tahun 2010 berada pada kisaran 14,6 derajat celsius akan naik menjadi sekitar 25 derajat celsius pada tahun 2500.
"Artinya, bumi tak akan lagi menjadi tempat hunian yang nyaman bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahkan sangat mungkin manusia tak akan dapat bertahan hidup pada kondisi seperti itu," tutur Jumina.
Terjadinya peningkatan emisi CO2 secara terus-menerus itulah yang menyebabkan para pakar lingkungan merasa sangat prihatin. Usaha untuk mengurangi emisi CO2 pun dilakukan, antara lain melalui penandatanganan Protokol Kyoto pada 1999. Sayang, Amerika Serikat sebagai penyumbang emisi CO2 terbesar kedua di dunia hingga saat ini belum bersedia menandatangani protokol tersebut.
"Begitu pula China yang merupakan penghasil emisi CO2 terbesar di dunia," ungkapnya kemudian.
Data menunjukkan, sumbangan sektor energi terhadap emisi CO2 dan fenomena pemanasan global sangat besar. Dengan demikian, demi mengurangi tingkat emisi CO2 domestik dan menekan laju terjadinya pemanasan global, maka penerapan konsep energi bersih sangat diperlukan. "Energi bersih bisa diartikan sebagai energi ramah lingkungan, atau energi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," jelas Jumina.
Bila Indonesia dapat menerapkan konsep energi bersih, maka sistem energi yang dibangun bukan hanya menghasilkan ketahanan energi dalam arti terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan energi nasional, tapi juga dapat mewujudkan terciptanya lingkungan yang sehat, nyaman, dan lestari. "Sehingga sistem energi yang diterapkan akan bervisi jauh ke depan tanpa harus merampas hak dasar generasi penerus," kata Jumina.
Kenyataan, pengembangan teknologi energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia belum memuaskan. Keterbatasan kemampuan SDM merupakan faktor utama. Untuk itu, PSE UGM bekerja sama dengan Sekolah Pascasarjana UGM menggelar seminar sehari "Pengembangan Sumberdaya Manusia Bidang Energi Bersih Menuju Ketahanan Energi Nasional", di gedung Pascasarjana UGM, Selasa (12/4/2011).
Seminar menampilkan beberapa narasumber, antara lain anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr Ir Tumiran MEng; Direktur Energi, Telekomunikasi, dan Informatika Bappenas Ir Jadhie J Ardajat MSi; Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Dr Ing Evita Legowo; Direktur Energi Primer PLN Ir Nur Pamudji MEng; Kepala Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Ir Arryanto Sagala; serta Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ir Luluk Sumiarso MSc.
Rabu, 06 April 2011
Seminar Nasional Teknologi Kelautan “The Development of Deepwater Technology in Indonesia: Managing Risk and Environmental Disaster”
by hanifdandedek'09
Seminar Nasional 2011 yang diselenggarakan pada 28 Maret 2011, di Graha Sepuluh Nopember ITS Surabaya, acara ini telah berlangsung selama 3 tahun. Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya turut berpartisipasi dalam seminar ini. Seminar Nasional tahun ke-3 menghadirkan para pemateri antara lain Swastioko Bhudi Suryanto, Dr.Ir. Iwan Ratman MSc, PE, Justinus Tangkelangi, Gunawan Suwarno, Prof.Ir.Mukhtasor, M.Eng, Ph.D., Murdjito.MSc.Eng,.1. Komunitas Migas Indonesia oleh Swastioko Bhudi Suryanto (Ketua Umum KMI)
KMI (Komunitas Migas Indonesia) berkejasama dengan Oceano mengadakan Seminar Nasional yang telah berlangsung selama 3 tahun. Tahun pertama yang diadakan 27 Februari 2009 di Politeknik Astra
2. Various Project Oil and Gas oleh Dr.Ir. Iwan Ratman MSc, PE (Vice President Project Management BPMIGAS)
Wilayah Indonesia hampir seluruhnya merupakan daerah penghasil minyak dan gas. Indonesia masuk dalam 10 negara yang menghasilkan minyak dan gas terbesar, Negara pernghasil minyak dan gas terbesar pertama diduduki oleh Rusia.
Ada beberapa macam pengeboran antara lain land-based ring, platform ring, jack-up ring, semi submersible, drill ship dan deepwater semi submersible.
3. Strategi Penanggulangan Bencana di Laut: Kebijakan, Implementasi dan Tantangan oleh Justinus Tangkelangi (Kepala Dinas Perkapalan dan Transportasi BPMIGAS)
Pengembangan teknologi laut dalam di Indonesia antara lain Proyek Gendalo-Gehem, Proyek Bangka, Abadi Field. Teknologi bawah air antara lain compliant tower, TLP, FPSO, semisubmersible, spar. Ada beberapa tipe rises laut dalam antara lain shallow water (flexible catenary dan stell catenary) dan deepwater (freestanding bundle hybrid risers dan freestanding sungle line hybrid risers).
Landasan hukumnya antara lain UU no.17 tahun 2008 tentang Pelayaran, PP no.21 tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim, PP no.5 tahun 2010 tentang Kenavigasian, KM no.5 tahun 2006 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kecelakaan Kpal, KM no.4 tahun 2005 tentang Pencegahan Pencemaran dari Kapal, PP no.51 tahun 2002 tentang Perkapalan dan PP no.7 tahun 2000 tentang Kepelautan.
Penanggulangan bencana, konsep penaggulannya dengan 3 cara :
1. Tier 1 dipersiapkan oleh masing-masing KKKS dengan peralatan PTM (masih dapat dilakukan sendiri)
2. Tier 2 ditanggulangi dengan:
a. Bantuan peralatan dari KKKS lain
b. Bantuan dari instansi terkaiat lain
c. Bantuan penyedia jasa dalam atau luar negeri
d. Bantuan penyedia jasa fasilitas bersama PTMP Tier 2
(melibatkan intansi tertentu)
3. Tier 3 ditanggulangi dengan:
a. Puskodalnas mengkoordinasikian semua sumber daya yang ada untuk operasi penaggulangan
b. Meminta bantuan penyedia jasa dari lokal dan asing(Tier 3 service center)
(melibatkan nasional)
Protection dan indemnity adalah suatu wadah yang berupa badan atau asosioasi yang dimiliki oleh seluruh anggota Pemilik Kapal/Operator/Penyewa untuk memproteksi segala Tanggung Jawab Hukum terhadap pihak ketiga akibat kecelakaan kpaal yang tidak dapat diproteksi oleh perusahaan asuransi dan disebut sebagai asuransi bersama(Mutual Insurance).
4. Deepwatwer Challenges Pipeline Instalation Case oleh Gunawan Suwarno (Deeplay Energy Services)
Metode instalasi pipa ada 2 yaitu Slay dan Jlay:
* Metode slay pipeline difabrikasi di atas kapal untuk dengan satu, dua atau tiga joints Membutuhkan stinger untuk mengontrol bending bagian atas dan tensioner untuk mengontrol bagian bawah. Laut yang lebih dalam membutuhkan stinger yang lebih panjang dan tensioner yang lebih kuat. S-lay laut dangkal hanya bisa dipakai sampai kedalaman sekitar 300m saja. Untuk yang lebih dalam lagi, DP S-lay bisa dipakai sampai kedalaman 700m. Kecepatan pasang sekitar 4 – 5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 60” OD (Allseas Solitair).
* Metote jlay Pengelasan dilakukan hanya oleh satu section jadi lebih lambat dari S-lay dan untuk mempercepat proses, teknik pengelasan yang lebih canggih seperti friction welding, electron beam welding atau laser welding digunakan. Pipa yang akan dipasang mempunyai sudut yang mendekati vertikal sehingga tidak butuh tensioner. Teknik ini sangat cocok untuk instalasi di laut dalam. Beda dengan S-lay, J-lay tidak membutuhkan stinger. Kecepatan pasang sekitar 1-1.5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 32” OD (Saipem S-7000)
5. Penanggulangan Pencemaran Laut Terhadap Aktivitas Migas di Indonesia oleh Prof.Ir.Mukhtasor, M.Eng, Ph.D.
Permintaan akan produksi minyak dan gas dalam negeri mauoun luar negeri terus meningkat, dan juga kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan minyak dan gassaat ini lebih dari 50% dilakukan di laut maka pencemaran laut pun akan semakin meningkat.
Tahap kegiatan industry minyak dan gas yang pertama adalah membuat konstruksi anjungan. Dalam tahap ini, keberadaan anjungan akan mempengaruhi perubahan local pada habitat dan distribusi ikan. Selanjutnya, tahap pengeboran, untuk mendapatkan hidrokerbon secara efktif dari sebuah reservoir, beberapa sumur dibor dengan formasi yang berbeda pada beberapa bagiannya. Diperlukan cairan/bahan kimia khusus untuk mencegah kenaikan temperature yang berlebihan dan keretakan pipa akibat penambahan tenaga pada mata bor. Tahap ketiga adalah proses produksi dan pemeliharaan, air keluar dari sumur bor bersama sama minyak dan gas. Air ini kemudian dipisahkan dari minyak dan gas selama proses produksi menggunakan separator atau alat pendukung lainnya. Tahap ini berpotensi menjadi dampak lingkungan terbesar dikarenakan pembuangannya dilakukan secara kontinyu. Tahap terakhir adalah tahap transportasi minyak dan gas, potensi pencemaran laut dari transportasi migas dengan menggunakan tangker adalah jika terjadi kecelakaan tangker dan operasi rutin tangker meliputi pembuangan air bilga dan ballast water, dry docking. Serta jika terjadi kebocoran pipa migas. Ekosistem biota biota laut akan rusak akibat tumpahan minyak, dan kerugian social ekonomi akan berdampak pada masyarakar khususnya masyarakat pesisir.
Pemulihan tumpahan minyak dengan cara absorben, dispersan, pembakaran, dan bioremediasi. Absorben dilakukan dengan cara memanfaatkan material organic atau anorganik yang dapat menyerap minyak seperti jerami, rimput kering, alang-alang, serbuk gergaji, kapas & glass woll, vermiculite, batu apung, atau absorben sintesis yang terbuat dari polyurethane. Namun cara ini tidak efektif digunakan untuk lapisan minyak yang pecah. Dispersan, cara ini menggunakan bahan kimia dengan komponen surface active agent yang bertujuan supaya minyak menjadi droplet dan cepat terdispersi dalam badan air. Cara ini juga masih belum efektif karena membutuhkan pengadukan dan tidak dapat digunakan untuk semua jenis minyak. Cara pembakaran diperbolahkan jika tumpahan minyak terjadi di laut lepas dan keadaan angin yang mendukung. Bioremediasi yaitu teknologi pemulihan minyak dengan memenfaatkan mikroorganisme atau tumbuhan untuk mengendegratasikan minyak.
Penaggulangan pencemaran laut akibat aktivitas minyak dan gas dapat dilakukan dengan cara melakukan pengolahan terhadap produced water, ada beberapa jenis teknologi yang tersedia untuk pengendalian dampak produced water antara lain physical treatment, chemical treatment, biological treatment, dan membrane treatment. Namun samoai saat ini belum ada satu pun teknologi yang cocok untuk mengolah limbah produced water secara tuntas, dua atau lebih system teknologi perlu dikombinasi secara seri. Meskipun demikian, level teknologi saat ini sudah mampu mengolah sampai kwalitas yang memenuhi syarat untuk penggunaan ulang, termasuk mamapu mengolah sampai setara dengan kwalitas air minum.
6. Perkembangan, Peluang dan Tantangan oleh Murdjito.MSc.Eng, (Departement Ocean Engineering ITS Surabaya)
Migas merupakan sumber energi utama dunia, produksinya 20% berasal dari laut.di Indonesia cadangan migas 90% berada di wilayah laut.
Tantangan adanya permasalahan antara lain desain dan operasi, kecelakaan operasi, statistika operasi, operasi bawah air, tantangan disain BLP bawah air.
Perkembangan dan peluang antara lain keterkaitan perkembangan iptek bawah laut utuk masa depan, konsep desain dan operasi berbsis safety, perkembnagan konsep perancanagan srtuktur laut.
Seminar Nasional 2011 yang diselenggarakan pada 28 Maret 2011, di Graha Sepuluh Nopember ITS Surabaya, acara ini telah berlangsung selama 3 tahun. Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya turut berpartisipasi dalam seminar ini. Seminar Nasional tahun ke-3 menghadirkan para pemateri antara lain Swastioko Bhudi Suryanto, Dr.Ir. Iwan Ratman MSc, PE, Justinus Tangkelangi, Gunawan Suwarno, Prof.Ir.Mukhtasor, M.Eng, Ph.D., Murdjito.MSc.Eng,.1. Komunitas Migas Indonesia oleh Swastioko Bhudi Suryanto (Ketua Umum KMI)
KMI (Komunitas Migas Indonesia) berkejasama dengan Oceano mengadakan Seminar Nasional yang telah berlangsung selama 3 tahun. Tahun pertama yang diadakan 27 Februari 2009 di Politeknik Astra
2. Various Project Oil and Gas oleh Dr.Ir. Iwan Ratman MSc, PE (Vice President Project Management BPMIGAS)
Wilayah Indonesia hampir seluruhnya merupakan daerah penghasil minyak dan gas. Indonesia masuk dalam 10 negara yang menghasilkan minyak dan gas terbesar, Negara pernghasil minyak dan gas terbesar pertama diduduki oleh Rusia.
Ada beberapa macam pengeboran antara lain land-based ring, platform ring, jack-up ring, semi submersible, drill ship dan deepwater semi submersible.
3. Strategi Penanggulangan Bencana di Laut: Kebijakan, Implementasi dan Tantangan oleh Justinus Tangkelangi (Kepala Dinas Perkapalan dan Transportasi BPMIGAS)
Pengembangan teknologi laut dalam di Indonesia antara lain Proyek Gendalo-Gehem, Proyek Bangka, Abadi Field. Teknologi bawah air antara lain compliant tower, TLP, FPSO, semisubmersible, spar. Ada beberapa tipe rises laut dalam antara lain shallow water (flexible catenary dan stell catenary) dan deepwater (freestanding bundle hybrid risers dan freestanding sungle line hybrid risers).
Landasan hukumnya antara lain UU no.17 tahun 2008 tentang Pelayaran, PP no.21 tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim, PP no.5 tahun 2010 tentang Kenavigasian, KM no.5 tahun 2006 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kecelakaan Kpal, KM no.4 tahun 2005 tentang Pencegahan Pencemaran dari Kapal, PP no.51 tahun 2002 tentang Perkapalan dan PP no.7 tahun 2000 tentang Kepelautan.
Penanggulangan bencana, konsep penaggulannya dengan 3 cara :
1. Tier 1 dipersiapkan oleh masing-masing KKKS dengan peralatan PTM (masih dapat dilakukan sendiri)
2. Tier 2 ditanggulangi dengan:
a. Bantuan peralatan dari KKKS lain
b. Bantuan dari instansi terkaiat lain
c. Bantuan penyedia jasa dalam atau luar negeri
d. Bantuan penyedia jasa fasilitas bersama PTMP Tier 2
(melibatkan intansi tertentu)
3. Tier 3 ditanggulangi dengan:
a. Puskodalnas mengkoordinasikian semua sumber daya yang ada untuk operasi penaggulangan
b. Meminta bantuan penyedia jasa dari lokal dan asing(Tier 3 service center)
(melibatkan nasional)
Protection dan indemnity adalah suatu wadah yang berupa badan atau asosioasi yang dimiliki oleh seluruh anggota Pemilik Kapal/Operator/Penyewa untuk memproteksi segala Tanggung Jawab Hukum terhadap pihak ketiga akibat kecelakaan kpaal yang tidak dapat diproteksi oleh perusahaan asuransi dan disebut sebagai asuransi bersama(Mutual Insurance).
4. Deepwatwer Challenges Pipeline Instalation Case oleh Gunawan Suwarno (Deeplay Energy Services)
Metode instalasi pipa ada 2 yaitu Slay dan Jlay:
* Metode slay pipeline difabrikasi di atas kapal untuk dengan satu, dua atau tiga joints Membutuhkan stinger untuk mengontrol bending bagian atas dan tensioner untuk mengontrol bagian bawah. Laut yang lebih dalam membutuhkan stinger yang lebih panjang dan tensioner yang lebih kuat. S-lay laut dangkal hanya bisa dipakai sampai kedalaman sekitar 300m saja. Untuk yang lebih dalam lagi, DP S-lay bisa dipakai sampai kedalaman 700m. Kecepatan pasang sekitar 4 – 5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 60” OD (Allseas Solitair).
* Metote jlay Pengelasan dilakukan hanya oleh satu section jadi lebih lambat dari S-lay dan untuk mempercepat proses, teknik pengelasan yang lebih canggih seperti friction welding, electron beam welding atau laser welding digunakan. Pipa yang akan dipasang mempunyai sudut yang mendekati vertikal sehingga tidak butuh tensioner. Teknik ini sangat cocok untuk instalasi di laut dalam. Beda dengan S-lay, J-lay tidak membutuhkan stinger. Kecepatan pasang sekitar 1-1.5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 32” OD (Saipem S-7000)
5. Penanggulangan Pencemaran Laut Terhadap Aktivitas Migas di Indonesia oleh Prof.Ir.Mukhtasor, M.Eng, Ph.D.
Permintaan akan produksi minyak dan gas dalam negeri mauoun luar negeri terus meningkat, dan juga kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan minyak dan gassaat ini lebih dari 50% dilakukan di laut maka pencemaran laut pun akan semakin meningkat.
Tahap kegiatan industry minyak dan gas yang pertama adalah membuat konstruksi anjungan. Dalam tahap ini, keberadaan anjungan akan mempengaruhi perubahan local pada habitat dan distribusi ikan. Selanjutnya, tahap pengeboran, untuk mendapatkan hidrokerbon secara efktif dari sebuah reservoir, beberapa sumur dibor dengan formasi yang berbeda pada beberapa bagiannya. Diperlukan cairan/bahan kimia khusus untuk mencegah kenaikan temperature yang berlebihan dan keretakan pipa akibat penambahan tenaga pada mata bor. Tahap ketiga adalah proses produksi dan pemeliharaan, air keluar dari sumur bor bersama sama minyak dan gas. Air ini kemudian dipisahkan dari minyak dan gas selama proses produksi menggunakan separator atau alat pendukung lainnya. Tahap ini berpotensi menjadi dampak lingkungan terbesar dikarenakan pembuangannya dilakukan secara kontinyu. Tahap terakhir adalah tahap transportasi minyak dan gas, potensi pencemaran laut dari transportasi migas dengan menggunakan tangker adalah jika terjadi kecelakaan tangker dan operasi rutin tangker meliputi pembuangan air bilga dan ballast water, dry docking. Serta jika terjadi kebocoran pipa migas. Ekosistem biota biota laut akan rusak akibat tumpahan minyak, dan kerugian social ekonomi akan berdampak pada masyarakar khususnya masyarakat pesisir.
Pemulihan tumpahan minyak dengan cara absorben, dispersan, pembakaran, dan bioremediasi. Absorben dilakukan dengan cara memanfaatkan material organic atau anorganik yang dapat menyerap minyak seperti jerami, rimput kering, alang-alang, serbuk gergaji, kapas & glass woll, vermiculite, batu apung, atau absorben sintesis yang terbuat dari polyurethane. Namun cara ini tidak efektif digunakan untuk lapisan minyak yang pecah. Dispersan, cara ini menggunakan bahan kimia dengan komponen surface active agent yang bertujuan supaya minyak menjadi droplet dan cepat terdispersi dalam badan air. Cara ini juga masih belum efektif karena membutuhkan pengadukan dan tidak dapat digunakan untuk semua jenis minyak. Cara pembakaran diperbolahkan jika tumpahan minyak terjadi di laut lepas dan keadaan angin yang mendukung. Bioremediasi yaitu teknologi pemulihan minyak dengan memenfaatkan mikroorganisme atau tumbuhan untuk mengendegratasikan minyak.
Penaggulangan pencemaran laut akibat aktivitas minyak dan gas dapat dilakukan dengan cara melakukan pengolahan terhadap produced water, ada beberapa jenis teknologi yang tersedia untuk pengendalian dampak produced water antara lain physical treatment, chemical treatment, biological treatment, dan membrane treatment. Namun samoai saat ini belum ada satu pun teknologi yang cocok untuk mengolah limbah produced water secara tuntas, dua atau lebih system teknologi perlu dikombinasi secara seri. Meskipun demikian, level teknologi saat ini sudah mampu mengolah sampai kwalitas yang memenuhi syarat untuk penggunaan ulang, termasuk mamapu mengolah sampai setara dengan kwalitas air minum.
6. Perkembangan, Peluang dan Tantangan oleh Murdjito.MSc.Eng, (Departement Ocean Engineering ITS Surabaya)
Migas merupakan sumber energi utama dunia, produksinya 20% berasal dari laut.di Indonesia cadangan migas 90% berada di wilayah laut.
Tantangan adanya permasalahan antara lain desain dan operasi, kecelakaan operasi, statistika operasi, operasi bawah air, tantangan disain BLP bawah air.
Perkembangan dan peluang antara lain keterkaitan perkembangan iptek bawah laut utuk masa depan, konsep desain dan operasi berbsis safety, perkembnagan konsep perancanagan srtuktur laut.
Minggu, 03 April 2011
Petunjuk Inilah Yang Digunakan Penyu Laut Untuk Bermigrasi Ribuan Mil
from Kaskus, by A. Wicaksono
Sampai saat ini, bagaimana spesies seperti penyu laut dapat bermigrasi ribuan mil di lautan tanpa petunjuk apa-apa menjadi misteri besar para ilmuwan.
Sebagaimana diketahui, penyu adalah kura-kura laut. Berbeda dengan kura-kura, penyu memiliki sepasang tungkai depan sebagai kaki pendayung. Penyu laut tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam, berbeda dengan kura-kura. Walaupun seumur hidup berkelana di dalam air, sesekali mereka tetap harus ke permukaan.
Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Seperti, jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh hewan yang bernapas dengan paru-paru itu dalam waktu 58 – 73 hari.
Kini, para peneliti dari University of North Carolina yakin bahwa mereka telah menemukan jawabannya. Penyu tempayan, spesies penyu laut, dapat menentukan garis bujur dengan menggunakan dua set isyarat magnetik, seperti kompas.
Ini adalah kali pertama kemampuan tersebut ditunjukkan dalam migrasi hewan. Penelitian ini pun kemudian langsung dipublikasikan di jurnal Current Biology.
Sebelumnya, sejumlah jenis penyu diperkirakan hanya mampu menggunakan isyarat magnetik untuk menentukan lintang, dan diyakini tidak mampu mengenali garis bujur. Tapi, temuan ini mengejutkan para peneliti ketika mengembangkan suatu metode yang melibatkan kekuatan dan sudut medan magnet Bumi.
“Bagian tersulit dari navigasi terbuka di laut bebas adalah menentukan posisi bujur dan arah timur-barat,” kata Nathan Putman yang bertindak sebagai kepala riset. Dikutip VIVAnews dari BBC, Jumat 25 Februari 2011.
“Membutuhkan waktu berabad-abad untuk mengetahui garis bujur dalam perjalanan panjang mereka di laut,” tandasnya. Namun, bagi penyu tempayan, migrasi ini harus ditempuh ketika mereka sampai ke laut dari sarang mereka di pinggir pantai. Saat mencapai pantai, tiap penyu kecil akan melewati kursus singkat untuk berenang di laut terbuka.
Bagaimana peneliti mengetahui bahwa penyu dapat mengenali garis bujur dengan isyarat medan magnet?
Peneliti membawa sejumlah penyu tempayan yang ditangkap dari laut Florida. Mereka ditempatkan di dalam wadah air melingkar dan ditambatkan sistem pelacakan elektronik untuk memantau arah berenangnya.
Para penyu kemudian dikenakan isyarat medan magnet yang direplikasikan di dalam kolam. Kedua isyarat itu ditempatkan di dua lokasi berbeda dengan pada garis lintang yang sama, namun di garis bujur yang berbeda sepanjang rute migrasi mereka.
Penyu tempayan bereaksi untuk tiap-tiap medan magnet dan berenang ke arah yang mereka tuju. Dalam kenyataan, arah itu sesuai dengan rute migrasi yang membentuk lingkaran. Dengan demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa penyu dapat menentukan informasi bujur menggunakanmedan magnet.
Sampai saat ini, bagaimana spesies seperti penyu laut dapat bermigrasi ribuan mil di lautan tanpa petunjuk apa-apa menjadi misteri besar para ilmuwan.
Sebagaimana diketahui, penyu adalah kura-kura laut. Berbeda dengan kura-kura, penyu memiliki sepasang tungkai depan sebagai kaki pendayung. Penyu laut tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam, berbeda dengan kura-kura. Walaupun seumur hidup berkelana di dalam air, sesekali mereka tetap harus ke permukaan.
Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Seperti, jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh hewan yang bernapas dengan paru-paru itu dalam waktu 58 – 73 hari.
Kini, para peneliti dari University of North Carolina yakin bahwa mereka telah menemukan jawabannya. Penyu tempayan, spesies penyu laut, dapat menentukan garis bujur dengan menggunakan dua set isyarat magnetik, seperti kompas.
Ini adalah kali pertama kemampuan tersebut ditunjukkan dalam migrasi hewan. Penelitian ini pun kemudian langsung dipublikasikan di jurnal Current Biology.
Sebelumnya, sejumlah jenis penyu diperkirakan hanya mampu menggunakan isyarat magnetik untuk menentukan lintang, dan diyakini tidak mampu mengenali garis bujur. Tapi, temuan ini mengejutkan para peneliti ketika mengembangkan suatu metode yang melibatkan kekuatan dan sudut medan magnet Bumi.
“Bagian tersulit dari navigasi terbuka di laut bebas adalah menentukan posisi bujur dan arah timur-barat,” kata Nathan Putman yang bertindak sebagai kepala riset. Dikutip VIVAnews dari BBC, Jumat 25 Februari 2011.
“Membutuhkan waktu berabad-abad untuk mengetahui garis bujur dalam perjalanan panjang mereka di laut,” tandasnya. Namun, bagi penyu tempayan, migrasi ini harus ditempuh ketika mereka sampai ke laut dari sarang mereka di pinggir pantai. Saat mencapai pantai, tiap penyu kecil akan melewati kursus singkat untuk berenang di laut terbuka.
Bagaimana peneliti mengetahui bahwa penyu dapat mengenali garis bujur dengan isyarat medan magnet?
Peneliti membawa sejumlah penyu tempayan yang ditangkap dari laut Florida. Mereka ditempatkan di dalam wadah air melingkar dan ditambatkan sistem pelacakan elektronik untuk memantau arah berenangnya.
Para penyu kemudian dikenakan isyarat medan magnet yang direplikasikan di dalam kolam. Kedua isyarat itu ditempatkan di dua lokasi berbeda dengan pada garis lintang yang sama, namun di garis bujur yang berbeda sepanjang rute migrasi mereka.
Penyu tempayan bereaksi untuk tiap-tiap medan magnet dan berenang ke arah yang mereka tuju. Dalam kenyataan, arah itu sesuai dengan rute migrasi yang membentuk lingkaran. Dengan demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa penyu dapat menentukan informasi bujur menggunakanmedan magnet.
Jumat, 01 April 2011
Coral Bleaching And It Relations With Global Warming Effects
by F.R. Fachri, 2010.
Apakah yang disebut terumbu karang itu, serta bagaimana cara hidupnya?
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel.

Apakah yang disebut terumbu karang itu, serta bagaimana cara hidupnya?
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel.
Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimentasi kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.
Dalam peristilahan 'terumbu karang', "karang" yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.
Karang berada dalam Filum Cnidaria, dan mereka menerima nutrisi dan sumber energi dalam dua cara. Mereka menggunakan strategi menangkap organisme planktonik kecil dengan tentakel mereka yang mengandung nematokis. Mereka memiliki hubungan simbiotik obligat dengan ganggang sel tunggal yang dikenal sebagai zooxanthellae. Zooxanthellae adalah alga autorophic yang termasuk dalam filum Dinoflagellata.
Zooxanthellae hidup bersimbiosis dalam jaringan polip karang dan membantu karang dalam produksi gizi melalui kegiatan fotosintesis tersebut. Dari proses simbiosis ini dihasilkan senyawa karbon untuk menghasilkan energy pada karang, meningkatkan kalsifikasi, dan memediasi unsur hara. Sedangkan polip pada karang memberikan zooxanthellae tempat hidup, berlindung, dan suplai karbon dioksida untuk proses fotosintesis-nya.. Jaringan karang sendiri sebenarnya bukan warna indah dari terumbu karang, tetapi warna tersebut berasal dari zooxanthellae yang hidup di tubuh mereka.
Mengapa terumbu karang dapat mengalami pemutihan atau bleaching ?
Pemutihan terumbu karang merupakan respon stres karang dari berbagai gangguan. Dimulai pada 1980-an, dilaporkan bahwa terjadinya pemutihan terumbu karang meningkat. Pemutihanan terumbu karang yang luas, melibatkan daerah terumbu karang besar dan mengakibatkan kematian karang massal telah menimbulkan kekhawatiran tentang keterkaitan peristiwa fenomena global termasuk pemanasan global atau perubahan iklim dan meningkatnya radiasi UV dari penipisan ozon.
Pemutihan karang ini terjadi ketika :
(i) penurunan kerapatan zooxanthellae
(ii) jatuhnya konsentrasi pigmen fotosintetik zooxanthellae (Kleppel et al, 1989).
Kebanyakan zooxanthella pembentuk terumbu biasanya mengandung sekitar 1-5 zooxanthellae x 10 cm 6 -2 jaringan permukaan hidup dan 2-10 pg klorofil setiap zooxanthella. Ketika karang memutih mereka kehilangan 60-90% dari zooxanthellae mereka dan setiap zooxanthella mungkin kehilangan 50-80% dari pigmen fotosintetik nya (Glynn 1996).
Jika penyebab stres tidak terlalu, karang yang terkena biasanya dapat mendapatkan kembali alga simbiotik mereka dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika kehilangan zooxanthellae yang berkepanjangan, yaitu jika stres terus dan populasi dari zooxanthellae tidak kembali, karang tersebut akan mati.
Menurut Buchheim, 1998, memaparkan bahwa ada beberapa penyebab dari tejadinya proses pemutihan karang, antara lain:
• Suhu
Karang hidup dalam suhu yang relatif sempit. Perubahan suhu laut yang tinggi dan kemudian rendah dapat menyebabkan pemutihan karang. Peristiwa pemutihan ini terjadi selama suhu tiba-tiba turun karena adanya upwelling, (-3 derajat C sampai -5 derajat C selama 5-10 hari
• Radiasi Matahari
Pemutihan yang terjadi selama bulan-bulan musim panas, saat suhu musiman dan radiasi matahari cukup tinggi, sering terjadi tidak proporsional dan membawa dampak pada karang. Radiasi ultraviolet (UVR, 280-400nm) telah terlibat dalam prpses pemutihan ini.
• Paparan subaerial
Pemaparan pada suhu tinggi atau rendah, peningkatan radiasi matahari, pengeringan, dan air pengenceran laut dengan hujan lebat semua bisa memainkan peran dalam hilangnya zooxanthellae, bahkan dapat membuat kematian padaarang secara cepat.
• Pengendapan
Relatif sedikit contoh pemutihan karang yang dikarenakan sedimen mereka hidup. Hal ini dimungkinkan, namun belum menunjukkan, bahwa sdimenbisa membuat spesies zooxanthellate lebih mungkin untuk memutih.
• Pengenceran Air Tawar
Pengenceran air yang dihasilkan karang dari curah hujan dan limpasan badai telah terbukti menyebabkan pemutihan terumbu karang. Umumnya, peristiwa pemutihan tersebut langka dan terbatas pada relatif kecil, wilayah perairan dekat pantai.
• Nutrisi an-organik
Peningkatan konsentrasi unsur hara (misalnya amonia dan nitrat) sebenarnya meningkatkan kerapatan zooxanthellae 2-3 kali. Meskipun eutrofikasi tidak secara langsung terlibat dalam hilangnya zooxanthellae, dapat menyebabkan kerugian skunder yang dapat mempengaruhi menurunnya ketahanan karang dan kerentanan lebih besar terhadap penyakit.
• Xenobiotik
Kehilangan Zooxanthellae terjadi selama paparan karang mengalami peningkatan konsentrasi kontaminan berbagai reaksi kimia, seperti Cu, herbisida dan minyak. Karena konsentrasi tinggi xenobiotik yang diperlukan untuk menginduksi kehilangan zooxanthellae, pemutihan dari sumber-sumber tersebut biasanya bersifat sementara.
• Epizootics
Kebanyakan penyakit karang menyebabkan kematian seluruh koloni atau merata dan peluruhan jaringan lunak, beberapa patogen telah diidentifikasi bahwa mereka dapat menembus jaringan putih pada karang.
Apakah fenomena pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini dapat mendukung terjadinya pemutihan pada karang ?
Dari adanya stres menyebabkan terumbu karang memutih, banyak juga yang mengaitkan dengan degradasi lingkungan lokal dan eksploitasi karang yang berlebihan. Dari faktor-faktor yang disebutkan di atas, hanya suhu air laut dan radiasi matahari yang memiliki faktor global untuk memungkinkan terjadinya perubahan. Pemanasan global, bersama dengan kejadian ENSO, perubahan suhu air laut, dan menipisnya ozon dapat meningkatkan jumlah dari sinar UV yang mencapai permukaan bumi, dan kemungkinan menyebabkan peristiwa pemutihan karang.
Peningkatan suhu laut dan radiasi matahari (khususnya radiasi UV), baik secara terpisah atau dalam kombinasi, telah dipertimbangan sebagai salah satu pnyebab pemutihan tersebut. Dalam banyak kasus, di mana pun pemutihan terumbu karang dilaporkan, terjadi selama musim panas atau dekat akhir periode pemanasan berlarut-larut.
Pemutihan karang dilaporkan sering terjadi selama periode kecepatan angin rendah, langit cerah, laut tenang dan kekeruhan yang rendah, ketika kondisi mendukung pemanasan lokal dan penetrasi tinggi panjang gelombang radiasi (UV) pendek. Suhu laut yang tinggi serta fluks radiasi UV dapat menyebabkan pemutihan terumbu karang dalam skala global, karena adanya efek rumah kaca dan penipisan lapisan ozon.
Batas toleransi peningkatan suhu laut pada karang adalah 0,5 -1,5 derajat C selama beberapa minggu atau peningkatan yang besar 3-4 derajat C selama beberapa hari akan menyebabkan disfungsi karang dan kematian.
Radiasi UV secara mudah dapat menembus air laut yang jernih, tetapi terumbu karang mempunyai senyawa yang dapat meredam sinar radiasi dari UV. Senyawa ini dihasilkan sebagai respons terhadap tingkat UV, tetapi tidak diketahui apakah kapasitas dari senyawa yang dimiliki karang ini. Ada kemungkinan interaksi antara suhu dan UV, dengan suhu secara signifikan mengurangi kepadatan zooxanthelae dan juga konsentrasi menyerap UV senyawa dalam zooanthid karang, sehingga berpotensi meningkatkan pemaparan dari simbion terhadap efek langsung dari radiasi UV.
Summary (Kesimpulan)
Zooxanthella merupakan salah satu organisme yang sangat penting dan sangat berperan dalam pertumbuhan dari karang. Antara zooxanthella dan karang menjalin suatu hubungan simbiois mutualisme yang saling meguntungkan.
Adanya dampak pemanasan global terhadap laut tropis dan subtropis dangkal dapat berpengaruh pada tingkat keparahan dan skala kerusakan akibat pemutihan karang. Ini dikarenakan kerapaan daari zooxanhella yang berkurang sehingga mempengaruhi pertumbuhan karang. Peningkatan suhu konservatif 1-2 derajat C akan menyebabkan daerah antara 20-30 derajat N mengalami pemanasan berkelanjutan yang termasuk dalam batas-batas mematikan kebanyakan spesies karang, karena matinya zooxanthella. Sehubungan dengan kenaikan suhu laut akan menjadi kenaikan permukaan laut, dan telah menyarankan bahwa kenaikan permukaan air laut akan menekan pertumbuhan karang atau membunuh banyak karang melalui penetrasi cahaya yang lebih rendah.
Beberapa populasi karang dan zooxanthellae endosymbiotic diperkirakan mereka mungkin dapat beradaptasi dengan kondisi ekstrim selama perubahan iklim global. Tetapi kematian karang dan penurunan luas terumbu akan diharapkan pada zona terumbu dangkal di lintang paling rendah. Bahkan jika pemanasan laut secara signifikan tidak terjadi dan tingkat radiasi tinggi tidak terjadi, degradasi terumbu karang mungkin dapat terjadi yang disebabkan karena adanya pencemaran antropogenik dan eksploitasi berlebihan yang masih dilakukan oleh manusia sampai saat ini.
REFERENSI
Buchheim, Jason, 1998. Coral Reef Bleaching. Marine Biology Expedition. Odissey Learning Center
IPB, 2009. Ekosistem terumbu karang. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. http://ipb.ac.id.html. Accessed at 1 Oktober 2010.
Wikipedia, 2010. Terumbu Karang. http://id.wikipedia.org/terumbu karang.html . Acessed at 1 Oktober 2010
Wikipedia, 2010. Zooxanthella. Http://wikipedia.org./zooxanthella.html . Accessed at 1 Oktober 2010.
Minggu, 27 Maret 2011
"Green Finance" Solusi Perubahan Iklim
JAKARTA, KOMPAS.com - Konsep green finance atau pengucuran modal dengan menggunakan prinsip ramah lingkungan bisa menjadi solusi dari sektor finansial untuk mengatasi dampak perubahan iklim global.
"Ada dua ancaman serius, yaitu masalah penggunaan energi dan lingkungan hidup yang bisa diatasi dengan green finance," kata Special Advisor Head Environment Finance Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Takashi Hongo dalam diskusi yang digelar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) di Jakarta, Kamis (28/1/2011).
Namun, menurut Hongo, untuk menerapkan konsep green finance secara nyata dibutuhkan tekad dari badan finansial, baik swasta maupun pemerintah, untuk mengeluarkan investasi dalam jumlah yang besar. Selain itu, penerapan green finance membutuhkan kemajuan teknologi yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim.
Ia mencontohkan, sejumlah nelayan di Jepang beberapa tahun lalu memutuskan untuk menggunakan teknologi LED (light emitting diode) akibat mahalnya harga bahan bakar yang biasa dipakai untuk melaut.
Hongo memaparkan, pada awalnya memang dibutuhkan biaya yang besar untuk membeli dan melengkapi kapal penangkap ikan dengan LED, tetapi setelah digunakan mereka dapat menghemat biaya operasional. "Mereka (para nelayan) meminjam uang dari bank," katanya.
Untuk itu, menurut dia, pembiayaan dan dorongan untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan merupakan kunci yang dibutuhkan dalam penerapan green finance.
Sementara itu, pembicara lainnya, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Suseno Sukoyono mengatakan, sebenarnya terdapat banyak peluang bisnis atau finansial yang dapat dikembangkan akibat perubahan iklim, termasuk salah satunya green finance.
Apalagi, ujar dia, Indonesia sebenarnya bukanlah merupakan penyumbang emisi terbesar tetapi perubahan iklim telah mengakibatkan sejumlah masalah seperti kenaikan suhu dan naiknya permukaan air laut yang tampak seperti fenomena rob yang akhir-akhir ini kerap terjadi di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara.
"Indonesia menghasilkan 1,7 emisi per kapita, sedangkan Amerika Serikat 20,6 dan Australia 16,2," katanya.
Ia juga mengingatkan, krisis energi seperti kenaikan harga minyak yang kini telah mencapai sekitar 100 dolar AS seharusnya juga bisa menjadikan salah satu aspek untuk mendorong penerapan green finance.
Ketua MPN Muhammad Taufiq mengharapkan terbangun jaringan baik di dalam maupun luar negeri atau organisasi internasional dalam menciptakan sumber peluang pembangunan berkelanjutan melalui green finance.
"Skema pendanaan green finance dengan dilandasi lingkungan investasi yang kondusif dengan memasukkan aspek perubahan iklim menjadi salah satu solusi penting dalam membangun Indonesia secara berkelanjutan," katanya.
Berdasarkan data MPN, terdapat potensi total ekonomi kelautan Indonesia yang mencapai 800 miliar dolar AS per tahun yang belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan antara lain karena kendala biaya.
Langganan:
Postingan (Atom)




