Source:WWF Indonesia
Ayo Bantu Bumi Kita Untuk Bebas Dari Segala Jenis Kerusakan Lingkungann,..!!!
Bahkan aktivitas paling sederhana yang dilakukan setiap hari, dapat membantu memulihkan planet kita yang kian rusak ini. Jangan tunda lagi, mari lakukan sekarang.
Kelangsungan hidup berbagai mahluk hidup di muka bumi kian terancam. Sudah saatnya setiap orang ikut menangani dengan cara masing-masing dan sesegera mungkin. Pastikan semua menggunakan solusi dan teknologi yang ramah lingkungan!
Hemat energi
* Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik. Artinya Anda terus berkontribusi pada pemanasan global.
* Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energi
* Saat matahari bersinar hindari penggunaan mesin pengering, jemur dan biarkan pakaian kering secara alami.
Hemat air
* Matikan keran saat sedang menggosok gigi
* Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman
* Segera perbaiki keran yang bocor - keran bocor menumpahkan air bersih hingga 13 liter air per hari
* Jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower. Mandi berendam merupakan cara yang paling boros air.
Hemat kayu dan kertas
* Selalu gunakan kertas di kedua sisinya
* Gunakan kembali amplop bekas
Kurangi, pakai lagi dan daur ulang (Reduce, Reuse and Recycle)
* Bantulah mengurangi tumpukan sampah dunia
* Jangan gunakan produk 'sekali pakai' seperti piring dan sendok kertas atau pisau, garpu dan cangkir plastik
* Gunakan baterai isi ulang
* Pilih kalkulator bertenaga surya
* Simpan makanan dalam wadah keramik, hindar
Minggu, 18 September 2011
Kamis, 08 September 2011
Tsunami Jepang Memecah Es Antartika
Tsunami di Jepang Maret lalu memecahkan gunung es di Antartika. Ukuran gabungan seluruh pecahan mencapai dua kali Kota Manhattan, Amerika Serikat.
Para peneliti dari NASA berhasil mendeteksi ombak tsunami Jepang bergerak sejauh 13.600 kilometer. Ombak tersebut mencapai daerah kutub selatan 18 jam setelah tsunami di Jepang. Gelombang yang tingginya hanya 30 sentimeter itu membuat gunung es yang berasal dari bongkahan es Sulzberger terpisah.
Selain gelombang, es di Antartika juga diperkirakan memiliki hubungan dengan aktivitas seismik. Saat gempa dan tsunami terjadi, getaran yang timbul cukup untuk membuat retakan pada es Antartika.
Menurut catatan sejarah, es Sulzberger belum pernah beranjak dari tempatnya selama 46 tahun. Baru setelah hingga tsunami Jepang melanda, Sulzberger bergerak. "Di masa lalu, ada peristiwa seperti ini, namun kami masih mencari sumbernya. Sekarang kami tahu ternyata gempa dan tsunami Jepang, salah satu peristiwa terbesar di dalam sejarah, bisa jadi penyebab," jelas spesialis kriosfer, Kelly Brunt.
Setelah tsunami terjadi, Brunt dibantu Emile Okal dari Northwestern University dan Douglas Macayeal dari University of Cicago langsung meneliti pecahan es yang mengambang di laut menggunakan satelit. Setelah melihat lebih dekat dengan bantuan radar European Space Agency Satellite (ENVISAT), ditemukan dua gunung es, salah satunya diperkirakan sebesar Kota Manhattan.
"Ini merupakan contoh bagaimana peristiwa di Bumi ini terhubung satu sama lain walaupun dengan jarak yang sangat jauh. Hal ini juga menjelaskan bagaimana sistem yang sepertinya tidak berkaitan ternyata sangat berkaitan," ungkap MacAyeal. (National Geographic Indonesia/Arief Sujatmoko)
Sejarah Mengapa 1 Menit = 60 Detik
Bilangan 60 digunakan untuk menyatakan waktu, sejam 60 menit, semenit 60 detik. Bilangan 60 ini digunakan pertama kali oleh bangsa Sumeria, jadi mereka berhitung dengan basis 60 atau disebut juga Sexagesimal.
Alasan kenapa digunakan bilangan 60 adalah bilangan ini bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam angka pertama yaitu: 1,2,3,4,5,6.
Jadi dengan mudah kita bisa terbayang: 1/2 jam = 30 mnt, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit, dst. Bayangkan kalau satu jam = 100 menit, berarti 1/3 jam = 33,333 mnt??? Kalo kata orang, itu ngga bunyi …
Kalo kata matematisnya, 60 itu highly composite number, atau bilangan yang angka pembaginya/faktornya banyak, yaitu 1,2,3,4,5,6,10,12,15,20,30,60.
Detik
Detik atau sekon adalah satuan waktu dalam SI (Sistem Internasional, lihat unit SI) yang didefinisikan sebagai durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133 pada suhu nol kelvin.
Dalam penggunaan yang paling umum, satu detik adalah 1/60 dari satu menit, dan 1/3600 dari satu jam.
Sejarahnya
Pada awalnya, istilah second dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "second minute" (menit kedua), yang berarti bagian kecil dari satu jam. Bagian yang pertama dikenal sebagai "prime minute" (menit perdana) yang sama dengan menit seperti yang dikenal sekarang.
Besarnya pembagian ini terpaku pada 1/60, yaitu, ada 60 menit di dalam satu jam dan ada 60 detik di dalam satu menit.Ini mungkin disebabkan oleh pengaruh orang-orang Babylonia, yang menggunakan hitungan sistem berdasarkan sexagesimal (basis 60).
Istilah jam sendiri sudah ditemukan oleh orang-orang Mesir dalam putaran bumi sebagai 1/24 dari mean hari matahari. Ini membuat detik sebagai 1/86.400 dari mean hari matahari.
Di tahun 1956, International Committee for Weights and Measures (CIPM), dibawah mandat yang diberikan oleh General Conference on Weights and Measures (CGPM) ke sepuluh di tahun 1954, menjabarkan detik dalam periode putaran bumi disekeliling matahari di saat epoch, karena pada saat itu telah disadari bahwa putaran bumi di sumbunya tidak cukup seragam untuk digunakan sebagai standar waktu.
Gerakan bumi itu digambarkan di Newcomb's Tables of the Sun (Daftar matahari Newcomb), yang mana memberikan rumusan untuk gerakan matahari pada epoch di tahun 1900 berdasarkan observasi astronomi dibuat selama abad ke-18 dan 19.
Dengan demikian detik didefinisikan sebagai 1/31.556.925,9747 bagian dari tahun matahari di tanggal 0 Januari 1900 jam 12 waktu ephemeris. Definisi ini diratifikasi oleh General Conference on Weights and Measures ke sebelas di tahun 1960.
Referensi ke tahun 1900 bukan berarti ini adalah epoch dari mean hari matahari yang berisikan 86.400 detik. Melainkan ini adalah epoch dari tahun tropis yang berisi 31.556.925,9747 detik dari Waktu Ephemeris.
Waktu Ephemeris (Ephemeris Time - ET) telah didefinisikan sebagai ukuran waktu yang memberikan posisi obyek angkasa yang terlihat sesuai dengan teori gerakan dinamis Newton.
Dengan dibuatnya jam atom, maka ditentukanlah penggunaan jam atom sebagai dasar pendefinisian dari detik, bukan lagi dengan putaran bumi.
Dari hasil kerja beberapa tahun, dua astronomer di United States Naval Observatory (USNO) dan dua astronomer di National Physical Laboratory (Teddington, England) menentukan hubungan dari hyperfine transition frequency atom caesium dan detik ephemeris.
Dengan menggunakan metode pengukuran common-view berdasarkan sinyal yang diterima dari stasiun radio WWV, mereka menentukan bahwa gerakan orbital bulan disekeliling bumi, yang dari mana gerakan jelas matahari bisa diterka, di dalam satuan waktu jam atom.Sebagai hasilnya, di tahun 1967, General Conference on Weights and Measures mendefinisikan detik dari waktu atom dalam International System of Units (SI) sebagai
Durasi sepanjang 9.192.631.770 periode dari radiasi sehubungan dengan transisi antara dua hyperfine level dari ground state dari atom caesium-133.
Ground state didefinisikan di ketidak-adaan (nol) medan magnet. Detik yang didefinisikan tersebut adalah sama dengan detik ephemeris. Definisi detik yang selanjutnya adalah disempurnakan di pertemuan BIPM untuk menyertakan kalimat Definisi ini mengacu pada atom caesium yang diam pada temperatur 0 K. Dalam prakteknya, ini berarti bahwa realisasi detik dengan ketepatan tinggi harus mengkompensasi efek dari radiasi sekelilingnya untuk mencoba mengextrapolasikan ke harga detik seperti yang disebutkan di atas.
Setiap orang wajib tahu waktu, oleh karena itu mari kita pelajari konversi atau perubahan waktu berikut ini :
1 Detik = Sama Dengan Seper 60 Menit (1/60 Detik)
1 Menit = Sama Dengan 60 Detik
1 Jam = Sama Dengan 60 Menit
1 Jam = Sama Dengan 3.600 Detik
1 Hari = Sama Dengan 24 Jam
1 Hari = Sama Dengan 1.440 Menit
1 Hari = Sama Dengan 86.400 Detik
1 Minggu = Sama Dengan 7 Hari
1 Bulan = Sama Dengan 28 Sampai 31 Hari
1 Bulan = Sama Dengan 4 Minggu
1 Caturwulan Atau Cawu = Sama Dengan 4 Bulan
1 Semester = Sama Dengan 6 Bulan
1 Tahun = 365 Sama Dengan Hingga 366 Hari
1 Tahun = Sama Dengan 12 Bulan
1 Dasawarsa = Sama Dengan 10 Tahun
1 Abad = Sama Dengan 100 Tahun
Sabtu, 20 Agustus 2011
Potensi hiu paus di Teluk Cenderawasih bagi industri ekowisata
Posted on 13 August 2011 from WWF Indonesia
Sebagai kawasan konservasi laut terluas di Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, habitat terumbu karang, dan beragam spesies laut langka. Salah satu spesies unik yang terdapat di wilayah ini adalah hiu paus, spesies ikan terbesar di dunia. Di Teluk Cenderawasih, ikan raksasa ini dapat dengan mudah dijumpai.
Hiu Paus (Rhincodon typus) kerap kali menampakkan dirinya di permukaan air. Umumnya mereka muncul di sekitar bagan (rumah terapung tempat menangkap ikan) yang banyak ditemukan di sepanjang perairan Kwatisore. Sekumpulan ikan puri (ikan-ikan kecil) yang terkumpul di jaring-jaring nelayan tersebut menjadi magnet bagi sekawanan hiu paus tersebut.
Fenomena itulah yang menjadikan kawasan perairan Indonesia timur ini memiliki potensi yang besar untuk pengembangan industri ekowisata, jelas Dr. Brent Steward, Peneliti senior lembaga penelitian non profit berbasis di California,HUBBS Seaworld Institute dalam laporan terbarunya tentang pelatihan monitoring hiu paus di Teluk Cenderawasih. Pada kegiatan capacity building yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, dan Papua Pro (operator ekowisata) pada 2-7 Mei 2011 lalu, ilmuwan HUBBS tersebut memberikan pembekalan teknis kepada para peserta workshop dan memasang pop-up tag pada seekor hiu paus jantan.
Pada laporan teknis yang ditulisnya, Brent juga memaparkan keunikan lainnya dari hiu paus di Kwatisore. Para nelayan lokal di sekitar bagan biasa memanggil hiu paus dengan menepuk-nepuk permukaan air seraya melempar segenggam ikan puri. Tidak lama kemudian, gerombolan satwa langka ini pun berenang mendekati bagan, membuka mulutnya yang lebar, dan melahap ikan puri. Pada masa-masa inilah, interaksi dengan hiu paus dapat dengan mudah dilakukan. Mereka umumnya berenang-renang di sekitar bagan dalam waktu yang lama, bahkan seringkali muncul di permukaan. Pemandangan langka yang tidak didapatkan di lokasi agregasi hiu paus lainnya.
Tingginya intensitas interaksi dengan hiu paus di Kwatisore, menurut ahli spesies laut tersebut, perlu diimbangi dengan pengembangan panduan interaksi hiu paus. Hal itu penting untuk menjamin agar aktivitas pengamatan hiu paus yang dilakukan tidak memberikan dampak buruk bagi kelestarian ikan raksasa itu. Untuk memfasilitasi pengembangan panduan dan program peningkatan kapasitas serta dalam rangka membantu mengelola kelestarian hiua paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, ia menekankan pentingnya pengembangan Monitoring and Research Program (MRP) yang dapat diselaraskan dengan aktivitas dan industri ekowisata. MRP ini nantinya juga akan mengevaluasi potensi dampak (positif dan negatif) yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas para nelayan yang sering memberi makan hiu paus di sekitar bagan.
Sebagai kawasan konservasi laut terluas di Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, habitat terumbu karang, dan beragam spesies laut langka. Salah satu spesies unik yang terdapat di wilayah ini adalah hiu paus, spesies ikan terbesar di dunia. Di Teluk Cenderawasih, ikan raksasa ini dapat dengan mudah dijumpai.
Hiu Paus (Rhincodon typus) kerap kali menampakkan dirinya di permukaan air. Umumnya mereka muncul di sekitar bagan (rumah terapung tempat menangkap ikan) yang banyak ditemukan di sepanjang perairan Kwatisore. Sekumpulan ikan puri (ikan-ikan kecil) yang terkumpul di jaring-jaring nelayan tersebut menjadi magnet bagi sekawanan hiu paus tersebut.
Fenomena itulah yang menjadikan kawasan perairan Indonesia timur ini memiliki potensi yang besar untuk pengembangan industri ekowisata, jelas Dr. Brent Steward, Peneliti senior lembaga penelitian non profit berbasis di California,HUBBS Seaworld Institute dalam laporan terbarunya tentang pelatihan monitoring hiu paus di Teluk Cenderawasih. Pada kegiatan capacity building yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, dan Papua Pro (operator ekowisata) pada 2-7 Mei 2011 lalu, ilmuwan HUBBS tersebut memberikan pembekalan teknis kepada para peserta workshop dan memasang pop-up tag pada seekor hiu paus jantan.
Pada laporan teknis yang ditulisnya, Brent juga memaparkan keunikan lainnya dari hiu paus di Kwatisore. Para nelayan lokal di sekitar bagan biasa memanggil hiu paus dengan menepuk-nepuk permukaan air seraya melempar segenggam ikan puri. Tidak lama kemudian, gerombolan satwa langka ini pun berenang mendekati bagan, membuka mulutnya yang lebar, dan melahap ikan puri. Pada masa-masa inilah, interaksi dengan hiu paus dapat dengan mudah dilakukan. Mereka umumnya berenang-renang di sekitar bagan dalam waktu yang lama, bahkan seringkali muncul di permukaan. Pemandangan langka yang tidak didapatkan di lokasi agregasi hiu paus lainnya.
Tingginya intensitas interaksi dengan hiu paus di Kwatisore, menurut ahli spesies laut tersebut, perlu diimbangi dengan pengembangan panduan interaksi hiu paus. Hal itu penting untuk menjamin agar aktivitas pengamatan hiu paus yang dilakukan tidak memberikan dampak buruk bagi kelestarian ikan raksasa itu. Untuk memfasilitasi pengembangan panduan dan program peningkatan kapasitas serta dalam rangka membantu mengelola kelestarian hiua paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, ia menekankan pentingnya pengembangan Monitoring and Research Program (MRP) yang dapat diselaraskan dengan aktivitas dan industri ekowisata. MRP ini nantinya juga akan mengevaluasi potensi dampak (positif dan negatif) yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas para nelayan yang sering memberi makan hiu paus di sekitar bagan.
Karbon, Ancaman Lain Kehidupan Laut
OLEH ABIYU PRADIPA | 14-07-2011 from NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA
Kehidupan laut juga terancam oleh emisi karbon. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti asal Inggris dan Australia yang menemukan banyaknya material organik terkubur dalam lapisan sedimen tak beroksigen yang berasal dari 85 juta tahun yang lalu.
Menggunakan sampel material yang digali dari dasar samudra di kawasan barat Afrika, kedua peneliti mempelajari lapisan sedimen dari periode Late Cretaceous (85 juta tahun lalu) selama jangka waktu 400 ribu tahun. Hasilnya, mereka mendapati bahwa banyak material organik (kehidupan laut) terkubur di dalam lapisan sedimen tak beroksigen.
“Penelitian kami membuktikan adanya kematian massal di samudra ketika Bumi menjalani proses efek rumah kaca dengan tingginya karbon dioksida di atmosfer dan kenaikan temperatur yang menyebabkan anjloknya oksigen yang dibutuhkan para hewan di air,” kata Kennedy.
Kennedy menyebutkan, jumlah karbon dioksida di atmosfer yang berlipat ganda dalam 50 tahun ke depan akan menjadi hantaman telak bagi ekosistem laut. Kepunahan massal kehidupan laut masa prasejarah bisa jadi peringatan. Pasalnya, efek rumah kaca bisa menghadirkan hal serupa.
Saat ini dead zone, kawasan dengan jumlah oksigen sangat minimal sehingga nyaris tidak mungkin menopang kehidupan, sudah semakin meluas di sejumlah lokasi dan samudra di seluruh dunia. Luas total zona minim oksigen di lautan melebihi 240.000 kilometer persegi. Area tersebut tersebar di beberapa negara. Zona terbesar ada di Mississippi, Amerika Serikat, yang mencapai lebih dari 22.000 kilometer persegi. “Banyak kawasan perairan yang kekurangan oksigen dan mengalami peningkatan karbon dioksida, temperatur, polusi dari limbah pertanian, serta faktor pemicu lain,” ucapnya. Dead zone bisa terjadi secara alami. Akan tetapi, aktivitas manusia membuat laju pertambahan kawasan itu lebih cepat.
Temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Science. (Sumber: Cosmos Magazine)
Kehidupan laut juga terancam oleh emisi karbon. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti asal Inggris dan Australia yang menemukan banyaknya material organik terkubur dalam lapisan sedimen tak beroksigen yang berasal dari 85 juta tahun yang lalu.
Menggunakan sampel material yang digali dari dasar samudra di kawasan barat Afrika, kedua peneliti mempelajari lapisan sedimen dari periode Late Cretaceous (85 juta tahun lalu) selama jangka waktu 400 ribu tahun. Hasilnya, mereka mendapati bahwa banyak material organik (kehidupan laut) terkubur di dalam lapisan sedimen tak beroksigen.
“Penelitian kami membuktikan adanya kematian massal di samudra ketika Bumi menjalani proses efek rumah kaca dengan tingginya karbon dioksida di atmosfer dan kenaikan temperatur yang menyebabkan anjloknya oksigen yang dibutuhkan para hewan di air,” kata Kennedy.
Kennedy menyebutkan, jumlah karbon dioksida di atmosfer yang berlipat ganda dalam 50 tahun ke depan akan menjadi hantaman telak bagi ekosistem laut. Kepunahan massal kehidupan laut masa prasejarah bisa jadi peringatan. Pasalnya, efek rumah kaca bisa menghadirkan hal serupa.
Saat ini dead zone, kawasan dengan jumlah oksigen sangat minimal sehingga nyaris tidak mungkin menopang kehidupan, sudah semakin meluas di sejumlah lokasi dan samudra di seluruh dunia. Luas total zona minim oksigen di lautan melebihi 240.000 kilometer persegi. Area tersebut tersebar di beberapa negara. Zona terbesar ada di Mississippi, Amerika Serikat, yang mencapai lebih dari 22.000 kilometer persegi. “Banyak kawasan perairan yang kekurangan oksigen dan mengalami peningkatan karbon dioksida, temperatur, polusi dari limbah pertanian, serta faktor pemicu lain,” ucapnya. Dead zone bisa terjadi secara alami. Akan tetapi, aktivitas manusia membuat laju pertambahan kawasan itu lebih cepat.
Temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Science. (Sumber: Cosmos Magazine)
Pemanasan Global Sebabkan Polutan Berbahaya Muncul Kembali
OLEH ABIYU PRADIPA | 25-07-2011 from NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA
Pemanasan global menyebabkan bahan kimia berbahaya, yang disebut “Dirty Dozen” termasuk DDT, yang sangat beracun kembali terbebas ke udara dari bongkahan es di lautan Kutub Utara. Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Nature Climate Change.
Dirty Dozen merupakan istilah untuk polutan organik yang gigih (persistent organic pollutants, disingkat POP), bahan kimia berbahaya yang umum digunakan di insektisida dan pestisida, yang sejak tahun 2001 dilarang untuk dipakai.
Bahan-bahan kimia ini terdiri dari molekul yang sangat kuat sehingga alam membutuhkan waktu beberapa dekade untuk menguraikannya. Mereka juga bisa terus berada di rantai makanan, menghadirkan ancaman kesuburan bagi spesies yang berada di puncak rantai makanan. Parahnya, POPs juga tidak larut di air dan lekas menguap sehingga mereka bisa dengan mudah berpindah dari tanah dan air ke atmosfer jika terkena suhu tinggi.
Peneliti mendapati adanya penurunan konsentrasi tiga bahan kimia berbahaya, seperti DDT, HCH, dan cischlordane, di atmosfer sepanjang 1993 sampai 2009. Namun dari data yang sama, peneliti mendapati bahwa adanya peningkatan emisi POP yang sebelumnya sudah terkunci di dalam es di kutub utara. Artinya, secara bertahap dilepaskan kembali ke atmosfer akibat adanya pemanasan suhu di kawasan tersebut.
“Sejumlah POP telah kembali ke atmosfer di atas Kutub Utara akibat perubahan iklim dan kejadian ini dapat menghambat upaya untuk mengurangi terkenanya bahan kimia beracun pada manusia,” kata Jianmin Ma, ketua tim peneliti dari Environment Canada.
Jordi Dachs, peneliti dari Institute of Environmental Assessment and Water Research, menyebutkan bahwa temuan itu merupakan kabar buruk. Akibat pemanasan global, Kutub Utara telah mengalami kerusakan dua sampai tiga kali lebih parah dibandingkan dengan bagian lain di planet ini. "Kutub Utara bisa menjadi pelopor dalam pelepasan POP. Mungkin akan terjadi juga dari tempat penyimpanan lain, termasuk tanah dan laut dalam," kata Dachs.
“Tampaknya, polutan ini akan memengaruhi lingkungan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding perkiraan sebelumnya,” kata Dachs. “Polutan yang dihasilkan oleh kakek dan nenek kita, yang jadi bukti perusakan lingkungan di masa lalu, kini muncul kembali,” ucapnya. (Sumber: news24.com)
Pemanasan global menyebabkan bahan kimia berbahaya, yang disebut “Dirty Dozen” termasuk DDT, yang sangat beracun kembali terbebas ke udara dari bongkahan es di lautan Kutub Utara. Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Nature Climate Change.
Dirty Dozen merupakan istilah untuk polutan organik yang gigih (persistent organic pollutants, disingkat POP), bahan kimia berbahaya yang umum digunakan di insektisida dan pestisida, yang sejak tahun 2001 dilarang untuk dipakai.
Bahan-bahan kimia ini terdiri dari molekul yang sangat kuat sehingga alam membutuhkan waktu beberapa dekade untuk menguraikannya. Mereka juga bisa terus berada di rantai makanan, menghadirkan ancaman kesuburan bagi spesies yang berada di puncak rantai makanan. Parahnya, POPs juga tidak larut di air dan lekas menguap sehingga mereka bisa dengan mudah berpindah dari tanah dan air ke atmosfer jika terkena suhu tinggi.
Peneliti mendapati adanya penurunan konsentrasi tiga bahan kimia berbahaya, seperti DDT, HCH, dan cischlordane, di atmosfer sepanjang 1993 sampai 2009. Namun dari data yang sama, peneliti mendapati bahwa adanya peningkatan emisi POP yang sebelumnya sudah terkunci di dalam es di kutub utara. Artinya, secara bertahap dilepaskan kembali ke atmosfer akibat adanya pemanasan suhu di kawasan tersebut.
“Sejumlah POP telah kembali ke atmosfer di atas Kutub Utara akibat perubahan iklim dan kejadian ini dapat menghambat upaya untuk mengurangi terkenanya bahan kimia beracun pada manusia,” kata Jianmin Ma, ketua tim peneliti dari Environment Canada.
Jordi Dachs, peneliti dari Institute of Environmental Assessment and Water Research, menyebutkan bahwa temuan itu merupakan kabar buruk. Akibat pemanasan global, Kutub Utara telah mengalami kerusakan dua sampai tiga kali lebih parah dibandingkan dengan bagian lain di planet ini. "Kutub Utara bisa menjadi pelopor dalam pelepasan POP. Mungkin akan terjadi juga dari tempat penyimpanan lain, termasuk tanah dan laut dalam," kata Dachs.
“Tampaknya, polutan ini akan memengaruhi lingkungan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding perkiraan sebelumnya,” kata Dachs. “Polutan yang dihasilkan oleh kakek dan nenek kita, yang jadi bukti perusakan lingkungan di masa lalu, kini muncul kembali,” ucapnya. (Sumber: news24.com)
Gunung Api Bawah Laut Ditemukan di Kutub Selatan
OLEH GLORIA SAMANTHA | 27-07-2011 from NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA
Sebanyak 12 gunung api yang berlokasi di bawah lautan beku ditemukan di kawasan Kutub Selatan--beberapa gunung api tersebut masih aktif. Selain itu, tim ekspedisi juga menemukan kawah berdiameter 5.000 meter yang diduga terbentuk akibat letusan gunung berapi.
Rangkaian gunung berapi bawah laut ini terbentang di South Sandwich Islands. Letaknya terpencil dan air laut di atasnya sebagian tertutup salju. Phil Leat dari British Antarctic Survey mengaku mereka sendiri terkejut oleh penemuan itu. "Masih banyak rahasia gunung berapi di bawah laut yang belum bisa kita pahami," katanya.
Puncak-puncak gunung tidak terlihat dari permukaan laut. Mereka baru terlihat dengan bantuan perangkat pemetaan tiga dimensi. Meskipun demikian, peneliti yakin yang mereka temukan memang gunung berapi. Tim British Antarctic Survey menggunakan teknologi pemetaan yang terpasang di kapal RRS James Clark Ross. Ini merupakan penemuan gunung berapi bawah laut untuk kali pertama di kawasan tersebut.
Leat menyebut, penemuan ini penting karena bisa membantu memahami kejadian terkait letusan gunung berapi bawah laut. Mereka juga bisa mengenali potensi bahaya yang akan terjadi. "Teknologi pemetaan bawah laut yang ada sekarang ini tak cuma menyuguhkan sepotong cerita tentang evolusi planet bumi, melainkan memberi petunjuk mengenai seberapa bahaya ancaman yang ditimbulkan," jelas Leat.
Selain itu, para peneliti juga tertarik menelaah kehidupan keanekaragaman kehidupan di wilayah sekitar gunung api bawah laut tersebut.
Sebanyak 12 gunung api yang berlokasi di bawah lautan beku ditemukan di kawasan Kutub Selatan--beberapa gunung api tersebut masih aktif. Selain itu, tim ekspedisi juga menemukan kawah berdiameter 5.000 meter yang diduga terbentuk akibat letusan gunung berapi.
Rangkaian gunung berapi bawah laut ini terbentang di South Sandwich Islands. Letaknya terpencil dan air laut di atasnya sebagian tertutup salju. Phil Leat dari British Antarctic Survey mengaku mereka sendiri terkejut oleh penemuan itu. "Masih banyak rahasia gunung berapi di bawah laut yang belum bisa kita pahami," katanya.
Puncak-puncak gunung tidak terlihat dari permukaan laut. Mereka baru terlihat dengan bantuan perangkat pemetaan tiga dimensi. Meskipun demikian, peneliti yakin yang mereka temukan memang gunung berapi. Tim British Antarctic Survey menggunakan teknologi pemetaan yang terpasang di kapal RRS James Clark Ross. Ini merupakan penemuan gunung berapi bawah laut untuk kali pertama di kawasan tersebut.
Leat menyebut, penemuan ini penting karena bisa membantu memahami kejadian terkait letusan gunung berapi bawah laut. Mereka juga bisa mengenali potensi bahaya yang akan terjadi. "Teknologi pemetaan bawah laut yang ada sekarang ini tak cuma menyuguhkan sepotong cerita tentang evolusi planet bumi, melainkan memberi petunjuk mengenai seberapa bahaya ancaman yang ditimbulkan," jelas Leat.
Selain itu, para peneliti juga tertarik menelaah kehidupan keanekaragaman kehidupan di wilayah sekitar gunung api bawah laut tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)



