by The Nature Conservacy
For years, it was a mystery. Stumped marine scientists scoured the world’s reefs, examining dead or dying coral. Why, they wondered, were some reefs particularly susceptible to coral bleaching when other nearby reefs remained resilient? And how could they better protect vulnerable reefs?
The answers, it turned out, were right under their face masks.
For more than a decade, The Nature Conservancy’s marine scientists have been at the forefront of coral conservation. During the current global bleaching event, we’re putting our reef resilience principles — which have helped guide marine scientists worldwide for years — to the test and adjusting our methods to better protect coral in the future.
“These resilience ideas have revolutionized the way we go about protecting coral reefs,” says Rod Salm, the Conservancy’s director of marine science and strategies in the Asia Pacific. “By stumbling upon factors that keep coral reefs healthier, especially in the face of climate change, we’ve been able to take advantage of naturally resilient reefs and use their strength to improve the recovery of coral reef communities everywhere.”
The Basis for Bleaching
In 1990, when Salm was developing conservation plans along the coast of Oman, he was one of many scientists worried about coral bleaching. Bleaching occurs when the tiny algae that color corals are ejected due to stress; their host corals turn white and frequently perish. Elevated ocean temperatures are the most common cause of blanched reefs, but other stressors — including storms and freshwater flooding — can also play a role.
Bleaching is one of the biggest threats to the globe’s coral reefs, which shelter a quarter of the world’s marine species and are worth an estimated $375 billion for people. As Salm recently observed while surveying reefs in Mozambique, reefs can bleach and recover — but they can also die, as was the case in Oman in 1990.
Back then, coral mortality due to bleaching approached 95 percent in some areas, but in others, reefs were still thriving. The puzzle persisted through 1998, the worst global bleaching event in history struck. By its end, 16 percent of the world’s reefs had died.
In 1999, Salm made a startling connection. Having recently joined the Conservancy and relocated to the Asia-Pacific region, he was examining bleached coral in the Rock Islands of Palau.
As he swam under an island’s overhang, he noticed that the corals were healthier. The corals beneath his facemask were colorful, but those beneath his swim fins were completely bleached.
Recognition for Resilience
Salm instantly realized that certain factors — like cooler water and shade — created resilient pockets of coral. He also realized naturally robust reefs needed protection if they were to repopulate bleached reefs. And with that revelation, reef resilience conservation — using marine protected areas to preserve vigorous, durable coral and promote overall reef health — was born.
Resilience was presented and met with near-universal approval at the Ninth International Coral Reef Symposium, held in Bali in 2000. That conference attracted enough interest and funding to spark a workshop that Salm convened together with WWF and Honolulu’s The Bishop Museum.
The hypotheses produced at that workshop were then turned into revised principles for designing marine protected areas. The resulting reef resilience principles have since been taught to hundreds of coral reef managers from more than 60 countries through a training program developed by Stephanie Wear, Director of Coral Reef Conservation for the Conservancy’s Global Marine Initiative.
“Since the 2000 symposium where Rod presented his ideas, there has been tremendous growth in the science of reef resilience,” Wear says. “When I go to a coral reef meeting now, the term is on the tip of everyone’s tongue.”
Correcting for Climate
Due in part to the occurrence of another El Niño last year followed by a moderate La Niña earlier this year, oceans have been hot, triggering another significant bleaching event. The bleaching is unfortunate, but it was also expected, and it’s providing reef resilience scientists with a silver lining.
“One of the best ways to gauge the effectiveness of reef resilience is to do monitoring during a bleaching,” says Alison Green, a senior marine scientist with The Nature Conservancy’s Tropical Marine Conservation Program. “That way we can determine which marine protected areas are well-designed and which reefs need additional protection.”
The Conservancy and partners are currently monitoring networks of marine protected areas we’ve helped establish in places like Palau and in the Coral Triangle, Wakatobi National Park and Kimbe Bay. By taking full stock of how well our hypotheses have worked to protect coral, we can recalibrate and improve our reef resilience principles and ensure that the world’s reefs are even better poised to handle the next major bleaching event.
“We have a really long way to go in identifying resilient reefs and protecting them,” Wear of the Global Marine Initiative says. “But we are well on our way, and Rod’s vision is a key reason for that."
The support from caring members like you is what fuels our scientific pursuit. Please adopt a coral reef today and help provide the steady and predictable funding needed by Conservancy scientists like Rod Salm.
January 19, 2011
Rabu, 15 Juni 2011
Minggu, 05 Juni 2011
Pengembangan Sistem Penunjang Tata Ruang Wilayah Terhadap Pengaruh Biologis Pada Area Pasang Surut Dalam Studi Interaksi Tanah Samudra
By: N. J. Brown, R. Cox, A.G. Thomson, R. A. Wadsworth, dan M. Yates
Summarized by: Miftahus Salam, 2011
Edited by: Fachri F.R
Pengantar
Zona pesisir adalah daerah konflik potensial antara aktivitas manusia dan lingkungan. Pantai menyediakan sumber daya untuk rekreasi, transportasi, pembuangan limbah, industri dan kegiatan pertanian. Namun, lingkungan pesisir terganggu akibat aktivitas manusia, perubahan iklim, dan perubahan permukaan laut. lebih dari 300 ilmuwan yang terlibat dalam program inti dan terkait topik khusus selama lebih dari enam tahun (1994 -1999) penelitian Natural Environment Research Council (NERC) dari Kerajaan Inggris.
ilmuwan ITE dan khususnya para ahli GIS (Global Information Sytem) memiliki pengalaman yang banyak tentang proyek-proyek kolaboratif. Hubungan studi disiplin, pemeriksaan flux melalui geografis yang berbeda daerah, dan kopling data dan model telah digalakkan oleh pengembangan interface secara mudah yang digunakan untuk GIS.
LOIS (The Land Ocean Interaction Study)
LOIS adalah program enam tahun untuk menghitung pertukaran, transformasi dan penyimpanan bahan antara darat dan laut dalam dan menentukan bagaimana mengubah parameter dalam ruang dan waktu. Penelitian ilmiah dalam program Biota berkonsentrasi pada zona pasang surut tetapi juga harus member solusi yang baik bagi wilayah darat dan laut.
Tujuan utama dari LOIS adalah (NERC, 1994):
• untuk memperkirakan fluks momentum terbaru dan material (sedimen, nutrisi, kontaminan) ke dalam dan keluar dari zona pantai, termasuk transfer melalui sungai, pantai, air tanah, keadaan dan batas laut;
• sebagai kunci fisik dan proses-proses biokimia yang mengatur perubahan dinamika pesisir dan fungsi ekosistem pesisir, dengan mengacu pada efek-efek variasi tertentu dalam suplai sedimen dan masukan dari polutan;
• untuk menggambarkan evolusi sistem pesisir dari jaman Holosen hingga sekarang dalam menanggapi perubahan kondisi iklim, perubahan relatif permukaan laut dan dampak kegiatan manusia;
• untuk mengembangkan model penambahan tanah-laut untuk mensimulasikan transportasi, transformasi dan keadaan material di zona pesisir, dan memberi dasar untuk memprediksi hidrologi, geomorfologi dan ekologi pada kondisi lingkungan yang berbeda untuk 50-100 tahun berikutnya.
Produk utama dari penelitian LOIS harus:
1. meningkatkan pemahaman proses multi-disiplin di DAS (Daerah Aliran Sungai), muara dan laut pesisir
2. model terintegrasi untuk mensimulasikan fluks, transformasi dan efek material dari tanah, melalui sungai, muara, zona pesisir dan udara ke paparan tepi
3. mengintegrasi database dan model ke dalam GIS, dan sistem lainnya, untuk membuat pemahaman dan informasi yang dapat diakses untuk tujuan manajemen zona pesisir
4. meningkatkan teknologi untuk memantau variabilitasdan perubahan sungai dan lingkungan pesisir, khususnya berkaitan dengan transportasi dan nasib
sedimen tersuspensi, nutrisi dan polutan organic
5. mengintegrasikan database untuk wilayah studi LOIS yang akan dibuat dalam bentuk CD-ROM
The BIOTA Programme
Program BIOTA mempelajari fluks dalam zona pasang-surut. Berkonsentrasi pada interaksi antara komponen biotik dan abiotik dari sistem ini. Lokasi penelitian utama program Biota ditemukan di pantai timur Inggris. Lokasi penelitian mencakup berbagai lingkungan pantai termasuk muara sungai,
teluk dan pantai terbuka. Tema utama dari penelitian dalam Biota adalah untuk menguji hubungan antara tanaman dan hewan dan lingkungan fisik dalam habitat mereka, yaitu daerah pasang-surut.
Sistem Pendukung Desain dan Konstruksi
Karena persyaratan dalam LOIS untuk integrasi penelitian ilmiah, spasial sederhana Decision Support System (DSS) sedang dikembangkan oleh staf pusat data BIOTA (penulis) untuk menyediakan akses ke data, model dan fungsi pendukung keputusan. Kunci alasan DSS adalah bahwa hal itu memberikan bantuan dalam membuat konsep masalah, mendukung intelijen, desain dan pilihan dalam pengambilan keputusan, dan produksi dan control memori bantu. Dalam kasus tertentu dari program Biota, DSS telah disetujui ke "system pakar" karena dalam masalah lingkungan, jarang ada yang menuruti solusi algoritma, biasanya ada bermacam tujuan, ada kebutuhan untuk menghasilkan dan mengevaluasi alternative dan untuk membenarkan pilihan yang diambil.
ITE telah menciptakan produk sejenis untuk analisis subyek berbagai lingkungan
pada berbagai skala, ini telah mencakup:
• DOE mendanai perubahan iklim model Core (Parr dan Eatherall, 1994)
• MAFF mendanai ITE Wetlands GIS (Brown et al., 1997)
• EC mendanai LANDECONET demonstran (Brown dan Firbank, 1997)
Analisis yang lebih kompleks termasuk perbandingan distribusi diperkirakan dari spesies tanaman yang berasal dari: penginderaan jauh data (respon spektrum), sampel kuadrat (survey botani) dan dimodelkan dari paparan dan tingkat genangan.
Sistem Pendukung Keputusan
Pada GIS yang paling sederhana dapat digunakan untuk memvisualisasikan data spasial. Misalnya, distribusi kawanan dunlin diamati selama beberapa waktu dengan informasi tambahan menunjukkan bagaimana berhubungan dengan ketinggian. Sebuah eksplorasi kuantitatif sederhana dari jenis data dapat mencakup penggunaan statistic (seperti Mann-Whitney) untuk menunjukkan signifikansi perbedaan persepsi dalam preferensi antara spesies.
Kesimpulan
System GIS dapat memberikan fokus dan stimulan untuk kerjasama dan kolaborasi di seluruh disiplin akademis. Keberhasilan sistem dapat diukur dengan kemauan ilmuwan untuk berkontribusi data dan model dan untuk berpartisipasi dalam penelitian kolaboratif baru.
Hal ini memungkinkan untuk mengidentifikasi daerah potensi kerjasama dankesenjangan dalam cakupan hanya jika kerangka sistem dimulai sejak dini. Lebih awal lebih cenderung mengarah pada sistem kohesif, komprehensif dan koheren.
LOIS adalah sebuah proyek ambisius yang akan, saat selesai, menunjukkan danmenggambarkan proses yang menghubungkan tanah dan laut. Sementara ilmu pengetahuan sedang maju di masing-masing komponen LOIS, hal baru yang signifikan adalah penggunaan eksplisit GIS dalam membina penelitian dan model secara terpadu di seluruh disiplin ilmu akademik.
Summarized by: Miftahus Salam, 2011
Edited by: Fachri F.R
Pengantar
Zona pesisir adalah daerah konflik potensial antara aktivitas manusia dan lingkungan. Pantai menyediakan sumber daya untuk rekreasi, transportasi, pembuangan limbah, industri dan kegiatan pertanian. Namun, lingkungan pesisir terganggu akibat aktivitas manusia, perubahan iklim, dan perubahan permukaan laut. lebih dari 300 ilmuwan yang terlibat dalam program inti dan terkait topik khusus selama lebih dari enam tahun (1994 -1999) penelitian Natural Environment Research Council (NERC) dari Kerajaan Inggris.
ilmuwan ITE dan khususnya para ahli GIS (Global Information Sytem) memiliki pengalaman yang banyak tentang proyek-proyek kolaboratif. Hubungan studi disiplin, pemeriksaan flux melalui geografis yang berbeda daerah, dan kopling data dan model telah digalakkan oleh pengembangan interface secara mudah yang digunakan untuk GIS.
LOIS (The Land Ocean Interaction Study)
LOIS adalah program enam tahun untuk menghitung pertukaran, transformasi dan penyimpanan bahan antara darat dan laut dalam dan menentukan bagaimana mengubah parameter dalam ruang dan waktu. Penelitian ilmiah dalam program Biota berkonsentrasi pada zona pasang surut tetapi juga harus member solusi yang baik bagi wilayah darat dan laut.
Tujuan utama dari LOIS adalah (NERC, 1994):
• untuk memperkirakan fluks momentum terbaru dan material (sedimen, nutrisi, kontaminan) ke dalam dan keluar dari zona pantai, termasuk transfer melalui sungai, pantai, air tanah, keadaan dan batas laut;
• sebagai kunci fisik dan proses-proses biokimia yang mengatur perubahan dinamika pesisir dan fungsi ekosistem pesisir, dengan mengacu pada efek-efek variasi tertentu dalam suplai sedimen dan masukan dari polutan;
• untuk menggambarkan evolusi sistem pesisir dari jaman Holosen hingga sekarang dalam menanggapi perubahan kondisi iklim, perubahan relatif permukaan laut dan dampak kegiatan manusia;
• untuk mengembangkan model penambahan tanah-laut untuk mensimulasikan transportasi, transformasi dan keadaan material di zona pesisir, dan memberi dasar untuk memprediksi hidrologi, geomorfologi dan ekologi pada kondisi lingkungan yang berbeda untuk 50-100 tahun berikutnya.
Produk utama dari penelitian LOIS harus:
1. meningkatkan pemahaman proses multi-disiplin di DAS (Daerah Aliran Sungai), muara dan laut pesisir
2. model terintegrasi untuk mensimulasikan fluks, transformasi dan efek material dari tanah, melalui sungai, muara, zona pesisir dan udara ke paparan tepi
3. mengintegrasi database dan model ke dalam GIS, dan sistem lainnya, untuk membuat pemahaman dan informasi yang dapat diakses untuk tujuan manajemen zona pesisir
4. meningkatkan teknologi untuk memantau variabilitasdan perubahan sungai dan lingkungan pesisir, khususnya berkaitan dengan transportasi dan nasib
sedimen tersuspensi, nutrisi dan polutan organic
5. mengintegrasikan database untuk wilayah studi LOIS yang akan dibuat dalam bentuk CD-ROM
The BIOTA Programme
Program BIOTA mempelajari fluks dalam zona pasang-surut. Berkonsentrasi pada interaksi antara komponen biotik dan abiotik dari sistem ini. Lokasi penelitian utama program Biota ditemukan di pantai timur Inggris. Lokasi penelitian mencakup berbagai lingkungan pantai termasuk muara sungai,
teluk dan pantai terbuka. Tema utama dari penelitian dalam Biota adalah untuk menguji hubungan antara tanaman dan hewan dan lingkungan fisik dalam habitat mereka, yaitu daerah pasang-surut.
Sistem Pendukung Desain dan Konstruksi
Karena persyaratan dalam LOIS untuk integrasi penelitian ilmiah, spasial sederhana Decision Support System (DSS) sedang dikembangkan oleh staf pusat data BIOTA (penulis) untuk menyediakan akses ke data, model dan fungsi pendukung keputusan. Kunci alasan DSS adalah bahwa hal itu memberikan bantuan dalam membuat konsep masalah, mendukung intelijen, desain dan pilihan dalam pengambilan keputusan, dan produksi dan control memori bantu. Dalam kasus tertentu dari program Biota, DSS telah disetujui ke "system pakar" karena dalam masalah lingkungan, jarang ada yang menuruti solusi algoritma, biasanya ada bermacam tujuan, ada kebutuhan untuk menghasilkan dan mengevaluasi alternative dan untuk membenarkan pilihan yang diambil.
ITE telah menciptakan produk sejenis untuk analisis subyek berbagai lingkungan
pada berbagai skala, ini telah mencakup:
• DOE mendanai perubahan iklim model Core (Parr dan Eatherall, 1994)
• MAFF mendanai ITE Wetlands GIS (Brown et al., 1997)
• EC mendanai LANDECONET demonstran (Brown dan Firbank, 1997)
Analisis yang lebih kompleks termasuk perbandingan distribusi diperkirakan dari spesies tanaman yang berasal dari: penginderaan jauh data (respon spektrum), sampel kuadrat (survey botani) dan dimodelkan dari paparan dan tingkat genangan.
Sistem Pendukung Keputusan
Pada GIS yang paling sederhana dapat digunakan untuk memvisualisasikan data spasial. Misalnya, distribusi kawanan dunlin diamati selama beberapa waktu dengan informasi tambahan menunjukkan bagaimana berhubungan dengan ketinggian. Sebuah eksplorasi kuantitatif sederhana dari jenis data dapat mencakup penggunaan statistic (seperti Mann-Whitney) untuk menunjukkan signifikansi perbedaan persepsi dalam preferensi antara spesies.
Kesimpulan
System GIS dapat memberikan fokus dan stimulan untuk kerjasama dan kolaborasi di seluruh disiplin akademis. Keberhasilan sistem dapat diukur dengan kemauan ilmuwan untuk berkontribusi data dan model dan untuk berpartisipasi dalam penelitian kolaboratif baru.
Hal ini memungkinkan untuk mengidentifikasi daerah potensi kerjasama dankesenjangan dalam cakupan hanya jika kerangka sistem dimulai sejak dini. Lebih awal lebih cenderung mengarah pada sistem kohesif, komprehensif dan koheren.
LOIS adalah sebuah proyek ambisius yang akan, saat selesai, menunjukkan danmenggambarkan proses yang menghubungkan tanah dan laut. Sementara ilmu pengetahuan sedang maju di masing-masing komponen LOIS, hal baru yang signifikan adalah penggunaan eksplisit GIS dalam membina penelitian dan model secara terpadu di seluruh disiplin ilmu akademik.
Kamis, 02 Juni 2011
Fakta dan Pemikiran Gempa-Tsunami Jepang 2011
By :Ahli Geologi Indonesia
Tulisan geologi popular dari IAGI
Dalam diskusi di mailist IAGI, Danny Hilman, Pakar Gempa dari LIPI memberikan beberapa pandangan menarik serta meneruskan diskusi sebelumnya dari Bung Irwan, Pak Awang, dan rekan-rekan lain, ada beberapa fakta dan pemikiran kunci dari kejadian gempa-tsunami di Jepang tersebut, sbb:
FAKTA:
1. Para ahli Jepang sudah salah memperkirakan (”underestimate”) potensi gempa-tsunami di zona subduksi segmen Miyagi ini. Prediksi gempa yang diberlakukan (dalam peraturan) adalah tidak melebihi skala magnitude 8. Alasannya: di bagian ini pergerakan penunjaman lempeng sebagian besar diakomodasi secaca “aseismic” (tidak terkunci - “uncoupled”) dan juga dimensi luasnya tidak besar (karena ada segmentasi fisik). Alasan kenapa segmen Miyagi ini “uncoupled” adalah karena subducted slabnya sangat tua (~140 MY), sehingga dingin dan berat dan tidak mampu menekan kep. Jepang.
2.Kontradiksi dengan anggapan (resmi) di atas Minoura et al (2001) sudah memperingatkan bahwa segmen ini sangat berbahaya karena menurut peneltan paleosesmologi-paleotsunami pernah terjadi gempa dahsyat yang membangkitkan tsunami setinggi 8m di pantai pada tahun 869 AD, disebut sebagai Jogan tsunami. Besar magnitude perkiraannya M8.3 - tentu ini sangat kasar karena data geodesi dan seismiknya tidak ada (hanya berdasarkan rekonstruksi endapan tsunami). Yang juga sangat menarik Minoura memperkirakan bahwa recurrence interval dari “supercycle” gempa besar ini adalah ~1000 tahun!
PEMIKIRAN:
Anggapan subduksi lempeng tua dll - sifat aseismic zona subduksi perlu ditinjau ulang. Kasus Gempa Aceh 2004 juga sama. Sebelumnya para ahli men-cap segmen Aceh-Andaman ini tidak mampu mengeluarkan gempa >M8. Demikian juga dengan gempa Bengkulu 2007. Saya dkk-pun tidak menyangka bisa ada gempa >M8 di sini karena dari jaringan GPS wilayah ini sebagian besar interface-nya “uncoupled/unlocked”. Kelihatannya potensi maximum suatu sumber gempa hanya masalah “time window” saja.
Hasil studi Minoura bahwa perioda ulang gempa M>8 di Miyagi ini ~1000 tahunan sangat menarik. Ingat bahwa relative plate motion di situ sekitar 8 cm/tahun sehingga untuk mengumpulkan regangan/strain sebesar 15m 9setara M8.9) hanya diperlukan waktu sekitar: 15m/8cm ~ 200 tahunan saja. Artinya “coefficient of coupling” (prosentase kuncian) dari subduction interface-nya paling banter hanya sekitar 20% saja (i.e. 80% aseismic atau steady slip/creeping). Jadi zona subduksi yang dominan aseismic tidak berarti tidak mampu memproduksi gempa raksasa — hanya masalah waktu saja!
Hubungan dengan INDONESIA:
Sebagian besar para ahli menganggap bahwa zona subduksi di wilayah Selat Sunda dan Selatan Jawa adalah ASEISMIC. Alasan untuk Selat Sunda karena wilayah ini didominasi oleh extensional tectonics (seperti halnya juga segmen Aceh-Andaman!). Subduksi Selatan Jawa diangap aseismic dan tidak mampu menghasilkan gempa di atas 8 karena Australian plate yang disubduksikannya sangat tua (di atas 150MY) seperti halnya yang di Miyagi (termasuk menurut Prof. Hiroo Kanamori - bekas guru saya di Caltech - tapi kayanya dia sekarang sudah berpikir ulang). Nah anggapan ini tentu HARUS DIKAJI ULANG, terutama karena segmen zona subduksi ini yang paling dekat dengan JAKARTA (dan rencana PLTN di BaBel).
Perihal maximum magnitude dari zona subduksi di Selatan Jawa menjadi salah satu perdebatan seru diantara rekan-rekan Tim-9 ketika dalam proses pembuatan Peta Zonasi Bahaya Gempa (PSHA) yang sudah dipublikasikan Juni 2010 lalu. Dari historis dan data seismik (sejak 100 tahun terakhir) besar gempa maksimum hanya M7.7 (e.g. Gempa-tsunami Jawa Timur 1994 dan gempa-tsunami Pangandaran 2006). Data paleotsunami/paleoseismologi seperti Minoura 2001 kita tidak punya dan data GPS-pun tidak juga, maka akhirnya kami memutuskan untuk sementara ini memberikan Maximum Gempa M8.0 untuk selatan Jawa (ini yang diberlakukan di Peta Zonasi Gempa Indonesia yang terbaru/tahun 2010).
Semoga dapat berguna untuk menjadi bahan pemikiran dan menindaklanjutinya.
Wassalam,
Danny Hilman N
Tulisan geologi popular dari IAGI
Dalam diskusi di mailist IAGI, Danny Hilman, Pakar Gempa dari LIPI memberikan beberapa pandangan menarik serta meneruskan diskusi sebelumnya dari Bung Irwan, Pak Awang, dan rekan-rekan lain, ada beberapa fakta dan pemikiran kunci dari kejadian gempa-tsunami di Jepang tersebut, sbb:
FAKTA:
1. Para ahli Jepang sudah salah memperkirakan (”underestimate”) potensi gempa-tsunami di zona subduksi segmen Miyagi ini. Prediksi gempa yang diberlakukan (dalam peraturan) adalah tidak melebihi skala magnitude 8. Alasannya: di bagian ini pergerakan penunjaman lempeng sebagian besar diakomodasi secaca “aseismic” (tidak terkunci - “uncoupled”) dan juga dimensi luasnya tidak besar (karena ada segmentasi fisik). Alasan kenapa segmen Miyagi ini “uncoupled” adalah karena subducted slabnya sangat tua (~140 MY), sehingga dingin dan berat dan tidak mampu menekan kep. Jepang.
2.Kontradiksi dengan anggapan (resmi) di atas Minoura et al (2001) sudah memperingatkan bahwa segmen ini sangat berbahaya karena menurut peneltan paleosesmologi-paleotsunami pernah terjadi gempa dahsyat yang membangkitkan tsunami setinggi 8m di pantai pada tahun 869 AD, disebut sebagai Jogan tsunami. Besar magnitude perkiraannya M8.3 - tentu ini sangat kasar karena data geodesi dan seismiknya tidak ada (hanya berdasarkan rekonstruksi endapan tsunami). Yang juga sangat menarik Minoura memperkirakan bahwa recurrence interval dari “supercycle” gempa besar ini adalah ~1000 tahun!
PEMIKIRAN:
Anggapan subduksi lempeng tua dll - sifat aseismic zona subduksi perlu ditinjau ulang. Kasus Gempa Aceh 2004 juga sama. Sebelumnya para ahli men-cap segmen Aceh-Andaman ini tidak mampu mengeluarkan gempa >M8. Demikian juga dengan gempa Bengkulu 2007. Saya dkk-pun tidak menyangka bisa ada gempa >M8 di sini karena dari jaringan GPS wilayah ini sebagian besar interface-nya “uncoupled/unlocked”. Kelihatannya potensi maximum suatu sumber gempa hanya masalah “time window” saja.
Hasil studi Minoura bahwa perioda ulang gempa M>8 di Miyagi ini ~1000 tahunan sangat menarik. Ingat bahwa relative plate motion di situ sekitar 8 cm/tahun sehingga untuk mengumpulkan regangan/strain sebesar 15m 9setara M8.9) hanya diperlukan waktu sekitar: 15m/8cm ~ 200 tahunan saja. Artinya “coefficient of coupling” (prosentase kuncian) dari subduction interface-nya paling banter hanya sekitar 20% saja (i.e. 80% aseismic atau steady slip/creeping). Jadi zona subduksi yang dominan aseismic tidak berarti tidak mampu memproduksi gempa raksasa — hanya masalah waktu saja!
Hubungan dengan INDONESIA:
Sebagian besar para ahli menganggap bahwa zona subduksi di wilayah Selat Sunda dan Selatan Jawa adalah ASEISMIC. Alasan untuk Selat Sunda karena wilayah ini didominasi oleh extensional tectonics (seperti halnya juga segmen Aceh-Andaman!). Subduksi Selatan Jawa diangap aseismic dan tidak mampu menghasilkan gempa di atas 8 karena Australian plate yang disubduksikannya sangat tua (di atas 150MY) seperti halnya yang di Miyagi (termasuk menurut Prof. Hiroo Kanamori - bekas guru saya di Caltech - tapi kayanya dia sekarang sudah berpikir ulang). Nah anggapan ini tentu HARUS DIKAJI ULANG, terutama karena segmen zona subduksi ini yang paling dekat dengan JAKARTA (dan rencana PLTN di BaBel).
Perihal maximum magnitude dari zona subduksi di Selatan Jawa menjadi salah satu perdebatan seru diantara rekan-rekan Tim-9 ketika dalam proses pembuatan Peta Zonasi Bahaya Gempa (PSHA) yang sudah dipublikasikan Juni 2010 lalu. Dari historis dan data seismik (sejak 100 tahun terakhir) besar gempa maksimum hanya M7.7 (e.g. Gempa-tsunami Jawa Timur 1994 dan gempa-tsunami Pangandaran 2006). Data paleotsunami/paleoseismologi seperti Minoura 2001 kita tidak punya dan data GPS-pun tidak juga, maka akhirnya kami memutuskan untuk sementara ini memberikan Maximum Gempa M8.0 untuk selatan Jawa (ini yang diberlakukan di Peta Zonasi Gempa Indonesia yang terbaru/tahun 2010).
Semoga dapat berguna untuk menjadi bahan pemikiran dan menindaklanjutinya.
Wassalam,
Danny Hilman N
Sabtu, 21 Mei 2011
Dua Spesies Baru Ikan Pari dari Amazon
KOMPAS.com — Para biolog berhasil menemukan dua spesies ikan pari air tawar baru dari hutan Amazon. Kedua pari tersebut secara informal disebut sebagai pari panekuk karena penampakannya yang mirip panekuk berukuran raksasa.
Kedua spesies tersebut berukuran cukup besar, dinamai Heliotrygon gomesi dan Heliotrygon rosai. Spesimen Heliotrygon gomesi ditemukan di wilayah hutan hujan tropis dekat Iquitos, Peru.
Famili ikan jenis tersebut, terdiri dari ikan pari air tawar di wilayah tropis yang disebut New World, memang dikenal berukuran cukup besar. Ikan pari air tawar bisa mencapai ukuran diameter 1,5 meter saat dewasa.
Penemuan itu dipublikasikan di jurnal Zootaxa edisi 24 Februari 2011. Peneliti sangat terkesan dengan hasil penelitian tersebut. Penemuan ini membuktikan bahwa hutan Amazon belum sepenuhnya tereksplorasi dan terdokumentasi.
Nathan Lovejoy dari Universitas Toronto mengatakan, "Hal terpenting yang diberitahukan penelitian ini adalah masih adanya ikan-ikan besar lain di Amazon yang belum ditemukan dan dideskripsikan."
Selain unik karena bentuknya yang mirip panekuk, ikan pari ini juga berbeda karena ukurannya yang relatif besar, memiliki celah pada bagian perutnya, dan struktur seperti duri di ekornya.
Jumat, 20 Mei 2011
Listrik dari Gelombang Laut Menjanjikan
KOMPAS.com - Gelombang laut dan bandul lonceng menjadi inspirasi Zamrisyaf. Periset pada Divisi Penelitian dan Pengembangan PT PLN (Persero) ini merancang pembangkit listrik dengan energi gelombang laut yang menggerakkan bandul kemudian diubah menjadi energi penggerak roda gila dan turbin listrik.
"Teknologi ini sudah mendapatkan hak paten dan siap dikomersialkan," kata Zamrisyaf, Kamis (19/5/2011) di Jakarta. Zamrisyaf mendaftarkan teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut-sistem bandulan (PLTGL-SB) untuk mendapatkan paten sejak tahun 2002.
Awalnya Zamrisyaf menekuni bidang pembangkit listrik mikrohidro. Kemudian, suatu perjalanan dengan kapal mendatangkan inspirasi baginya untuk merancang PLTGL-SB. Pada perjalanan itu, kapal diterpa badai dengan gelombang laut tinggi. Kapal berayun-ayun. Lonceng kapal pun berdentang. Zamrisyaf menyimak rumah lonceng beradu dengan bandulannya.
"Gelombang laut memiliki energi yang diteruskan bandulan lonceng. Bandulan lonceng menghasilkan energi bunyi, tetapi bandulan pada PLTGL-SB rancangan saya menghasilkan listrik," kata Zamrisyaf. Ia mengutip hukum kekekalan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi diubah.
Zamrisyaf mengubah energi gelombang laut menjadi energi listrik melalui perantara energi gerak bandulan yang menjadi penggerak roda gila. Pada akhirnya, roda gila menggerakkan turbin atau dinamo yang berputar dan menghasilkan listrik.(Nawa Tunggal)
Rabu, 18 Mei 2011
Cumi-cumi Ikut Dibawa ke Luar Angkasa
dari kompas 18 mei 2011
Pesawat ulang alik Endeavour telah melesat ke International Space Station (ISS), Senin (16/5/2011). Dalam misi ke-25 sekaligus terakhirnya itu, Endeavour membawa Alpha Magnetic Spectrometer (AMS), alat seharga 2 miliar dollar AS yang berguna untuk meneliti antimateri dan materi gelap.
Ketika perhatian tertuju pada alat mahal tersebut, sebenarnya pesawat termuda milik Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) itu juga membawa muatan yang tak kalah penting, yaitu seekor cumi-cumi jenis Euprymna scolopes. Makhluk hidup yang termasuk golongan Chepalopoda itu dibawa sehingga bisa mengetahui efek mikrogravitasi pada kesehatan astronot.
Mengapa cumi-cumi? Makhluk ini memiliki simbiosis dengan bakteri Vibrio fischeri. Lewat simbiosis itu, bakteri memiliki ruang hidup dan kecukupan nutrisi dari cumi-cumi, sementara cumi-cumi mendapatkan keuntungan karena bakteri mampu menghasilkan cahaya. Ini membantu cumi-cumi dalam mencari makan dan menghindari predator.
Nah, seperti diketahui, gravitasi di antariksa lebih kecil daripada di Bumi. Tahun 2006, ketika bakteri Salmonella dikirim ke antariksa dan dibawa lagi ke Bumi, kemampuannya membunuh tikus putih mencapai tiga kali lipat. Pengaruh mikrogravitasi itulah yang diperkirakan menjadi penyebabnya.
Dengan mengirim cumi-cumi, ilmuwan ingin mengetahui efek mikrogravitasi pada mikroba menguntungkan seperti Vibrio fischeri. Akankah berubah menjadi merugikan? Nantinya, cumi-cumi yang dibawa ke luar angkasa itu akan dibiarkan dikolonisasi oleh bakteri, kemudian dimatikan, dibekukan, dan dibawa lagi ke Bumi.
Bila bakteri pada cumi-cumi terpengaruh oleh kondisi mikrogravitasi di antariksa, maka bakteri yang ada di tubuh astronot, misalnya di sistem pencernaan, juga bisa terpengaruh oleh kondisi tersebut. "Intinya, kami ingin memastikan para astronot dalam keadaan sehat," kata Jamie Foster dari University of Florida.
Foster mengatakan, pengiriman cumi-cumi beserta Vibrio fischeri di dalamnya ini merupakan misi pertama pengiriman bakteri menguntungkan. "Ini adalah upaya pertama melihat dampak pada bakteri menguntungkan," katanya. Hasil penelitian ini nantinya akan berguna bila misi penerbangan ke asteroid dan Mars terwujud.
Endeavour juga membawa lima jenis bakteri lain, yaitu Cupriavidus metallidurans, Deinococcus radiodurans yang tahan radiasi hingga 15.000 Gy, Haloarcula marismortui yang hidup di lingkungan salinitas tinggi, Pyrococcus furiosus yang tahan panas, dan Targigrade yang bisa hidup di rentang temperatur -273 derajat celsius hingga 150 derajat celsius. Kelima bakteri itu akan digunakan untuk menginvestigasi kebenaran hipotesis yang menyatakan bahwa kehidupan di Bumi berasal dari meteorit.
Pesawat ulang alik Endeavour telah melesat ke International Space Station (ISS), Senin (16/5/2011). Dalam misi ke-25 sekaligus terakhirnya itu, Endeavour membawa Alpha Magnetic Spectrometer (AMS), alat seharga 2 miliar dollar AS yang berguna untuk meneliti antimateri dan materi gelap.
Ketika perhatian tertuju pada alat mahal tersebut, sebenarnya pesawat termuda milik Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) itu juga membawa muatan yang tak kalah penting, yaitu seekor cumi-cumi jenis Euprymna scolopes. Makhluk hidup yang termasuk golongan Chepalopoda itu dibawa sehingga bisa mengetahui efek mikrogravitasi pada kesehatan astronot.
Mengapa cumi-cumi? Makhluk ini memiliki simbiosis dengan bakteri Vibrio fischeri. Lewat simbiosis itu, bakteri memiliki ruang hidup dan kecukupan nutrisi dari cumi-cumi, sementara cumi-cumi mendapatkan keuntungan karena bakteri mampu menghasilkan cahaya. Ini membantu cumi-cumi dalam mencari makan dan menghindari predator.
Nah, seperti diketahui, gravitasi di antariksa lebih kecil daripada di Bumi. Tahun 2006, ketika bakteri Salmonella dikirim ke antariksa dan dibawa lagi ke Bumi, kemampuannya membunuh tikus putih mencapai tiga kali lipat. Pengaruh mikrogravitasi itulah yang diperkirakan menjadi penyebabnya.
Dengan mengirim cumi-cumi, ilmuwan ingin mengetahui efek mikrogravitasi pada mikroba menguntungkan seperti Vibrio fischeri. Akankah berubah menjadi merugikan? Nantinya, cumi-cumi yang dibawa ke luar angkasa itu akan dibiarkan dikolonisasi oleh bakteri, kemudian dimatikan, dibekukan, dan dibawa lagi ke Bumi.
Bila bakteri pada cumi-cumi terpengaruh oleh kondisi mikrogravitasi di antariksa, maka bakteri yang ada di tubuh astronot, misalnya di sistem pencernaan, juga bisa terpengaruh oleh kondisi tersebut. "Intinya, kami ingin memastikan para astronot dalam keadaan sehat," kata Jamie Foster dari University of Florida.
Foster mengatakan, pengiriman cumi-cumi beserta Vibrio fischeri di dalamnya ini merupakan misi pertama pengiriman bakteri menguntungkan. "Ini adalah upaya pertama melihat dampak pada bakteri menguntungkan," katanya. Hasil penelitian ini nantinya akan berguna bila misi penerbangan ke asteroid dan Mars terwujud.
Endeavour juga membawa lima jenis bakteri lain, yaitu Cupriavidus metallidurans, Deinococcus radiodurans yang tahan radiasi hingga 15.000 Gy, Haloarcula marismortui yang hidup di lingkungan salinitas tinggi, Pyrococcus furiosus yang tahan panas, dan Targigrade yang bisa hidup di rentang temperatur -273 derajat celsius hingga 150 derajat celsius. Kelima bakteri itu akan digunakan untuk menginvestigasi kebenaran hipotesis yang menyatakan bahwa kehidupan di Bumi berasal dari meteorit.
Senin, 16 Mei 2011
SEMINAR INTERNATIONAL KELAUTAN
Tema :
'Pengelolaan Sumberdaya Laut dan Pesisir yang Berkelanjutan di Kawasan Coral Triangle Initiative (CTI)'
By : BROK, ITB, dan UDAYANA
Waktu dan Tempat
Kamis dan Jumat, 09-10 Juni 2011
Aula Lt.3 Gedung Pascasarjana Universitas Udayana
Jalan Panglima Besar Sudirman, Denpasar, Bali
Bagi anak-anak ilmu kelautan brawijaya yang ingin berpartisipasi pada seminar ini bisa menghubungi saudara rio (IK'09), dengan menyertakan hasil scan tanda tangan anda. Terima kasih
Want to see more information about it, please click here,....
'Pengelolaan Sumberdaya Laut dan Pesisir yang Berkelanjutan di Kawasan Coral Triangle Initiative (CTI)'
By : BROK, ITB, dan UDAYANA
Waktu dan Tempat
Kamis dan Jumat, 09-10 Juni 2011
Aula Lt.3 Gedung Pascasarjana Universitas Udayana
Jalan Panglima Besar Sudirman, Denpasar, Bali
Bagi anak-anak ilmu kelautan brawijaya yang ingin berpartisipasi pada seminar ini bisa menghubungi saudara rio (IK'09), dengan menyertakan hasil scan tanda tangan anda. Terima kasih
Want to see more information about it, please click here,....
Langganan:
Postingan (Atom)




