Sabtu, 20 Agustus 2011

Potensi hiu paus di Teluk Cenderawasih bagi industri ekowisata

Posted on 13 August 2011 from WWF Indonesia
Sebagai kawasan konservasi laut terluas di Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, habitat terumbu karang, dan beragam spesies laut langka. Salah satu spesies unik yang terdapat di wilayah ini adalah hiu paus, spesies ikan terbesar di dunia. Di Teluk Cenderawasih, ikan raksasa ini dapat dengan mudah dijumpai.
Hiu Paus (Rhincodon typus) kerap kali menampakkan dirinya di permukaan air. Umumnya mereka muncul di sekitar bagan (rumah terapung tempat menangkap ikan) yang banyak ditemukan di sepanjang perairan Kwatisore. Sekumpulan ikan puri (ikan-ikan kecil) yang terkumpul di jaring-jaring nelayan tersebut menjadi magnet bagi sekawanan hiu paus tersebut.

Fenomena itulah yang menjadikan kawasan perairan Indonesia timur ini memiliki potensi yang besar untuk pengembangan industri ekowisata, jelas Dr. Brent Steward, Peneliti senior lembaga penelitian non profit berbasis di California,HUBBS Seaworld Institute dalam laporan terbarunya tentang pelatihan monitoring hiu paus di Teluk Cenderawasih. Pada kegiatan capacity building yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, dan Papua Pro (operator ekowisata) pada 2-7 Mei 2011 lalu, ilmuwan HUBBS tersebut memberikan pembekalan teknis kepada para peserta workshop dan memasang pop-up tag pada seekor hiu paus jantan.

Pada laporan teknis yang ditulisnya, Brent juga memaparkan keunikan lainnya dari hiu paus di Kwatisore. Para nelayan lokal di sekitar bagan biasa memanggil hiu paus dengan menepuk-nepuk permukaan air seraya melempar segenggam ikan puri. Tidak lama kemudian, gerombolan satwa langka ini pun berenang mendekati bagan, membuka mulutnya yang lebar, dan melahap ikan puri. Pada masa-masa inilah, interaksi dengan hiu paus dapat dengan mudah dilakukan. Mereka umumnya berenang-renang di sekitar bagan dalam waktu yang lama, bahkan seringkali muncul di permukaan. Pemandangan langka yang tidak didapatkan di lokasi agregasi hiu paus lainnya.

Tingginya intensitas interaksi dengan hiu paus di Kwatisore, menurut ahli spesies laut tersebut, perlu diimbangi dengan pengembangan panduan interaksi hiu paus. Hal itu penting untuk menjamin agar aktivitas pengamatan hiu paus yang dilakukan tidak memberikan dampak buruk bagi kelestarian ikan raksasa itu. Untuk memfasilitasi pengembangan panduan dan program peningkatan kapasitas serta dalam rangka membantu mengelola kelestarian hiua paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, ia menekankan pentingnya pengembangan Monitoring and Research Program (MRP) yang dapat diselaraskan dengan aktivitas dan industri ekowisata. MRP ini nantinya juga akan mengevaluasi potensi dampak (positif dan negatif) yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas para nelayan yang sering memberi makan hiu paus di sekitar bagan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar